Apakah Manchester United Dzolim ke Ruben Amorim?

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 08 Januari 2026 | 13:05 WIB
Apakah Manchester United Dzolim ke Ruben Amorim?
Ruben Amorim (Instagram)
baca 10 detik
  • Pemecatan Ruben Amorim membuktikan adanya kegagalan sistemik manajemen Manchester United sejak tahun 2013.

  • Konflik antara kebutuhan teknis pelatih dan prioritas komersial klub menjadi penghambat utama prestasi.

  • Klub terus memecat pelatih tanpa memberikan dukungan penuh dalam proses rekrutmen pemain sesuai sistem.

Suara.com - Keputusan drastis kembali diambil oleh manajemen Manchester United dengan mengakhiri kerja sama dengan pelatih Ruben Amorim.

Langkah ini menambah panjang catatan kegagalan pelatih yang menahkodai Setan Merah sejak era Sir Alex Ferguson berakhir.

Tercatat sudah ada sepuluh juru taktik yang mencoba peruntungan di Old Trafford namun semuanya gagal meraih trofi liga.

Rentetan kegagalan ini memberikan indikasi kuat bahwa permasalahan yang terjadi bukan lagi sekadar faktor individu pelatih saja.

Kondisi tersebut sudah sepatutnya dibaca sebagai sebuah kegagalan sistemik yang mengakar di dalam tubuh organisasi klub besar.

Amorim sebenarnya tiba di Manchester dengan situasi tim yang masih carut-marut secara struktur maupun komposisi pemain teknis.

Ia mewarisi skuad yang dibangun dari berbagai filosofi pelatih terdahulu sehingga terjadi benturan kebutuhan sistem di lapangan hijau.

Sejak awal menjabat, sang pelatih secara terbuka menyebutkan bahwa timnya belum siap bersaing di jalur perebutan gelar juara.

Ia meminta waktu setidaknya dua hingga tiga tahun sebagai target yang masuk akal untuk membangun fondasi kekuatan tim.

baca juga

Jika menilik statistik musim 2025/2026, performa klub sebenarnya tidak bisa dikategorikan berada dalam kondisi krisis yang mengkhawatirkan.

Posisi Setan Merah di papan atas klasemen menunjukkan adanya stabilitas yang lebih baik dibandingkan performa buruk musim sebelumnya.

Skema permainan mulai terlihat berpola dan konsisten meski sempat terpuruk hingga posisi ke-15 pada musim kompetisi yang lalu.

Amorim mulai berani menyisihkan nama-nama besar yang tidak masuk dalam skema taktis yang ia terapkan secara disiplin ketat.

Fokus latihan diintensifkan pada pakem formasi 3-4-3 meski keputusan ini sempat menuai gelombang kritik pedas dari berbagai pihak.

Meski sistem permainannya belum matang seutuhnya, arah perkembangan tim di bawah asuhan pelatih asal Portugal ini mulai terlihat.

Ironisnya, kabar pemecatan justru muncul saat proses pembangunan tim sedang berjalan dan bukan saat tim mengalami kekalahan beruntun.

Faktor internal manajemen diyakini menjadi alasan utama di balik keputusan yang mengejutkan bagi banyak pendukung setia Setan Merah.

Sejak kepemimpinan keluarga Glazer, operasional klub dinilai lebih condong pada logika bisnis komersial daripada prestasi sepak bola murni.

Kepentingan citra merek dan nilai ekonomi sering kali lebih diprioritaskan dibandingkan kebutuhan jangka panjang dari sisi teknis kepelatihan.

Fenomena ini mengingatkan publik pada ucapan Louis van Gaal yang pernah menyebut Manchester United sebagai klub komersial belaka.

Jose Mourinho juga pernah memberikan pernyataan yang sangat tajam mengenai realitas di dalam klub yang bermarkas di Old Trafford ini.

Ia menyebut keberhasilan membawa United ke posisi kedua pada musim 2017/2018 sebagai pencapaian terbaik sepanjang perjalanan karier profesionalnya.

“Pencapaian terbesarnya dalam karier kepelatihan,” ujar Mourinho saat menggambarkan kesulitannya menangani dinamika internal klub yang sangat tidak mendukung tersebut.

Pernyataan itu secara tidak langsung menegaskan bahwa fondasi klub tetap rapuh meskipun hasil di atas kertas terlihat cukup baik.

Jika dibandingkan dengan Liverpool atau Arsenal, terlihat perbedaan yang sangat mencolok dalam hal kesabaran manajemen membangun sebuah proyek.

Jurgen Klopp membutuhkan waktu yang tidak sebentar di Liverpool sebelum akhirnya berhasil mengubah tim menjadi raksasa yang sangat menakutkan.

Begitu pula dengan Mikel Arteta di Arsenal yang sempat terjerembab di posisi delapan klasemen selama dua musim berturut-turut.

Manajemen Arsenal memilih tetap bertahan pada rencana awal meskipun menghadapi tekanan besar dan kritik keras dari para suporter.

Mereka berani melepas pemain bintang yang tidak cocok dengan visi pelatih demi menjaga integritas sistem permainan dalam jangka panjang.

Manchester United tampaknya tidak pernah benar-benar memberikan waktu bagi seorang pelatih untuk menyelesaikan proyek pembangunan tim secara utuh.

Setiap rencana besar selalu terhenti di tengah jalan karena tuntutan hasil instan yang tidak dibarengi dengan dukungan transfer tepat.

Ole Gunnar Solskjaer pernah membeberkan fakta bahwa dirinya sempat meminta klub untuk mendatangkan Erling Haaland namun justru ditolak mentah-mentah.

Hal serupa dialami Ralf Rangnick yang usulannya untuk merekrut Luis Diaz diabaikan hingga sang pemain akhirnya menyeberang ke klub rival.

Ketidakselarasan antara kebutuhan teknis dan kebijakan manajemen berdampak fatal pada ketersediaan pemain di setiap pertandingan penting yang dijalani tim.

Pada laga terakhir melawan Leeds United, pemandangan menyedihkan terlihat di bangku cadangan yang hanya diisi oleh dua pemain tim senior.

Krisis pemain akibat cedera dan panggilan tugas negara di Piala Afrika semakin memperparah kondisi skuad yang sudah tipis sejak awal.

Harapan baru sempat muncul saat Sir Jim Ratcliffe masuk sebagai pemegang saham minoritas untuk membenahi sektor olahraga secara lebih profesional.

Namun, kewenangan yang terbatas membuatnya sulit melakukan perubahan total karena kontrol utama organisasi masih berada di tangan pihak lain.

Amorim yang sukses besar di Sporting CP kini harus menerima nasib serupa dengan Erik ten Hag yang juga datang dengan reputasi hebat.

Banyak pemain yang awalnya bersinar justru kehilangan sentuhan terbaiknya saat berseragam United, namun kembali gemilang setelah mereka memutuskan untuk hengkang.

Kasus Scott McTominay yang menjadi pemain kunci di Napoli menjadi bukti nyata adanya masalah dalam lingkungan kerja di Manchester United.

Di klub ini, setiap pelatih seolah hanya menjadi pion dalam sebuah organisasi yang dijalankan dengan logika yang sangat jauh dari sepak bola.

Selama struktur manajemen tidak dirombak secara total, siapapun pelatihnya kemungkinan besar akan berakhir dengan nasib tragis yang sama berulangnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ruben Amorim Pergi dengan Senyum, Asisten Ungkap Kisah di Balik Pemecatan Manchester United

Ruben Amorim Pergi dengan Senyum, Asisten Ungkap Kisah di Balik Pemecatan Manchester United

Bola | Rabu, 07 Januari 2026 | 19:55 WIB

Balik ke Belanda, Erik ten Hag Gantikan Jan Streuer Sebagai Direktur Teknik Baru FC Twente

Balik ke Belanda, Erik ten Hag Gantikan Jan Streuer Sebagai Direktur Teknik Baru FC Twente

Bola | Rabu, 07 Januari 2026 | 19:14 WIB

Dua Legenda Manchester United Diadu Demi Jabatan Pelatih Sementara, Solskjaer atau Carrick?

Dua Legenda Manchester United Diadu Demi Jabatan Pelatih Sementara, Solskjaer atau Carrick?

Bola | Rabu, 07 Januari 2026 | 17:36 WIB

Terkini

Raihaanun Terjebak Cinta dengan Maxime Bouttier dan Hamish Daud di Tante Sonya

Raihaanun Terjebak Cinta dengan Maxime Bouttier dan Hamish Daud di Tante Sonya

Entertainment | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 16:02 WIB

Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km

Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km

Otomotif | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 16:01 WIB

Bebas Gerah! 5 Rekomendasi Sampo Mint untuk Kulit Kepala dengan Sensasi Dingin

Bebas Gerah! 5 Rekomendasi Sampo Mint untuk Kulit Kepala dengan Sensasi Dingin

Your Say | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 16:00 WIB

Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla Dinilai Sangat Memungkinkan

Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla Dinilai Sangat Memungkinkan

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 15:55 WIB

Buntut Demo Ricuh, Aparat dan Tokoh Masyarakat Diminta Aktif Redam Provokasi Massa

Buntut Demo Ricuh, Aparat dan Tokoh Masyarakat Diminta Aktif Redam Provokasi Massa

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 15:53 WIB

4 Cushion SPF 50 Cocok Aktivitas Kuliah, Harga Ekonomis di Bawah Rp100 Ribu

4 Cushion SPF 50 Cocok Aktivitas Kuliah, Harga Ekonomis di Bawah Rp100 Ribu

Your Say | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 15:50 WIB

Sukses Lipat Gandakan Hasil Panen, Lucky Hakim Bongkar Kunci Sukses Pertanian Indramayu

Sukses Lipat Gandakan Hasil Panen, Lucky Hakim Bongkar Kunci Sukses Pertanian Indramayu

Entertainment | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 15:47 WIB

4 Mesin Cuci LG Top Loading Murah dan Bagus, Tabung Jumbo hingga Inverter

4 Mesin Cuci LG Top Loading Murah dan Bagus, Tabung Jumbo hingga Inverter

Lifestyle | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 15:44 WIB

2 Sunscreen Wardah SPF 35 untuk Kulit Sehat dan Cerah Bebas dari Jerawat

2 Sunscreen Wardah SPF 35 untuk Kulit Sehat dan Cerah Bebas dari Jerawat

Lifestyle | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 15:40 WIB

Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh

Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 15:35 WIB

×