-
Timnas Indonesia terancam gagal ikut Asian Games 2026 akibat potensi perubahan aturan peserta.
-
Ketua BTN Sumardji memastikan pendaftaran pemain sudah dilakukan sejak dua bulan yang lalu.
-
PSSI masih menunggu konfirmasi tertulis dari KOI dan AFC terkait nasib resmi Indonesia.
Suara.com - Kabar mengejutkan datang menghampiri skuad Timnas Indonesia terkait keikutsertaan mereka dalam ajang olahraga bergengsi se-Asia.
Langkah kaki Timnas Indonesia menuju Asian Games 2026 kini berada dalam posisi yang sangat mengkhawatirkan.
Padahal, segala bentuk persiapan teknis dan administratif telah dimatangkan oleh jajaran manajemen tim sejak lama.
Kabar yang beredar menyebutkan bahwa ada perubahan mendasar mengenai siapa saja yang berhak bertanding di sana.
Potensi kegagalan ini memicu tanda tanya besar di kalangan pecinta sepak bola tanah air yang berharap tinggi.
Badan Tim Nasional sebenarnya telah bergerak cepat untuk memenuhi segala persyaratan yang diminta oleh pihak penyelenggara.
Bahkan, proses penyerahan daftar nama pemain awal atau entry by name sudah dilakukan jauh-jauh hari.
Pihak otoritas sepak bola Indonesia memastikan tidak ada keterlambatan dalam prosedur pendaftaran pemain tersebut kepada panitia.
Sumardji selaku Ketua BTN mengungkapkan bahwa pihaknya sudah bekerja sesuai jadwal yang telah ditentukan sebelumnya.
Baca Juga: Regulasi Asian Games 2026 serta Kekecewaan Besar yang Mengintai Penggawa Garuda dan para Suporter
Ia menegaskan bahwa tim administrasi sudah mengirimkan data tersebut sekitar delapan minggu yang lalu tanpa kendala.
"Bahkan entry by name Timnas Indonesia U-23 untuk Asian Games 2026 itu sudah kami kirim sejak dua bulan yang lalu," ujar Sumardji kepada awak media.
Langkah pengiriman daftar pemain ini merupakan fondasi utama agar para atlet bisa divalidasi oleh pihak penyelenggara.
Daftar tersebut memuat sekumpulan nama yang nantinya akan dikerucutkan menjadi skuad final untuk berlaga di Jepang.
Hanya pemain yang namanya masuk dalam sistem tersebut yang memiliki lisensi sah untuk turun ke lapangan hijau.
Namun, upaya keras di balik meja ini terancam sia-sia karena isu perubahan aturan kepesertaan yang mendadak.
Isu yang berkembang menyebutkan bahwa tiket ke Asian Games kini tidak lagi terbuka bebas bagi semua negara.
Muncul skema baru yang mensyaratkan tim harus terlebih dahulu sukses dalam kualifikasi Piala Asia U-23 2026.
Regulasi ini disinyalir merupakan hasil kesepakatan antara pihak AFC selaku induk sepak bola dengan Dewan Olimpiade Asia.
Jika aturan ini benar-benar diterapkan, maka slot peserta sepak bola putra akan menjadi sangat terbatas dan kompetitif.
Indonesia yang awalnya yakin bisa berpartisipasi kini harus menunggu kepastian mengenai nasib keberangkatan skuad mereka tersebut.
Sumardji mengaku bahwa pihaknya baru saja mendengar desas-desus mengenai aturan yang bisa merugikan posisi Indonesia ini.
"Kami memang dari awal itu Asian Games 2026. Baru kemarin kami mendapatkan informasi. Kami harus memastikan itu," jelasnya.
BTN tidak tinggal diam dan segera menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pihak berwenang untuk mencari kebenaran.
Koordinasi langsung dilakukan bersama Komite Olimpiade Indonesia atau KOI guna membedah status keikutsertaan skuad merah putih.
Langkah cepat ini diambil agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi yang bisa mengganggu fokus persiapan para pemain muda.
Hingga detik ini, federasi masih berpegang pada rencana awal karena belum menerima hitam di atas putih soal pembatalan.
"Tadi saya sudah diskusi, saya sudah tanya baik ke departemen internasional dan juga saya sudah koordinasi dengan KOI, Pak Endri kebetulan di KOI. Jadi sampai dengan saat ini kami belum mendapatkan surat resmi bahwa kami tidak ikut dalam Asian Games di Jepang," jelas Sumardji.
Hal ini menunjukkan bahwa masih ada secercah harapan bagi Garuda Muda untuk tetap tampil di panggung internasional tersebut.
PSSI masih menunggu dokumen legal dari pihak penyelenggara agar segala sesuatunya menjadi lebih transparan dan jelas bagi semua.
Seluruh jajaran manajemen tetap optimis namun tetap waspada terhadap segala kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi nanti.
Ketidakpastian ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas mental dan program latihan yang sudah disusun rapi.
Pihak BTN berjanji akan memberikan informasi terbaru kepada masyarakat segera setelah ada perkembangan signifikan dari pihak otoritas.
"Tetapi, kembali lagi, ini kan masih ada waktu, kami akan selalu koordinasi karena ini memang ranahnya Komite Olahraga sehingga nanti kepastian seperti apa, ya nanti akan segera kami update," pungkasnya.
Waktu yang tersisa akan dimanfaatkan secara maksimal untuk memperjuangkan hak Indonesia agar tetap bisa berkompetisi di Jepang.
Kini, nasib skuad asuhan pelatih nasional tersebut sepenuhnya bergantung pada hasil diplomasi antara KOI, AFC, dan penyelenggara.