- Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas, mempelajari metode Bodo/Glimt menjelang semifinal Coppa Italia melawan Inter.
- Fabregas mengundang staf Bodo/Glimt untuk mendalami nutrisi dan kebugaran pemain jelang laga penting.
- Ia menerapkan teknologi visual drone di latihan Como untuk meningkatkan pemahaman taktik pemain secara langsung.
Suara.com - Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas, mengambil langkah tak biasa jelang semifinal Coppa Italia melawan Inter.
Eks Arsenal itu mengaku mempelajari metode Bodo/Glimt, tim Norwegia yang sukses menyingkirkan Inter di Liga Champions musim ini.
Leg pertama semifinal Coppa Italia akan digelar di Stadio Sinigaglia, Selasa (3/3/2026) pukul 20.00 waktu setempat.
Inter datang sebagai favorit kuat. Nerazzurri memimpin klasemen Serie A dengan keunggulan 10 poin dan memenangi 13 dari 14 laga terakhir di liga.
Namun, fakta menarik muncul dari Liga Champions. Inter kalah kandang dan tandang dari Bodo/Glimt di babak play-off dengan agregat 2-5. Pendekatan tim Norwegia itu disebut sangat mengesankan bagi Cesc Fabregas.
Laporan media Italia menyebut, kekalahan Inter dari Bodo/Glimt mendorong Fabregas mempelajari detail metode mereka. Ia bahkan mengundang staf Bodo/Glimt makan siang pekan lalu.
Fabregas secara aktif ingin bertemu dengan ahli nutrisi dan staf kebugaran mereka, menggali detail bagaimana mereka menjaga kondisi fisik para pemain.
Salah satu perhatian utama Fabregas adalah pengelolaan nutrisi. Como dan Bodo/Glimt diketahui sama-sama menggunakan aplikasi khusus yang membantu pemain mencatat semua makanan yang mereka konsumsi saat waktu senggang.
Aplikasi tersebut memungkinkan staf pelatih memantau pola makan pemain secara detail. Pendekatan ini dinilai efektif menjaga konsistensi kondisi fisik sepanjang musim.
Inovasi lain yang diterapkan Fabregas adalah penggunaan teknologi visual di tempat latihan Como. Dalam beberapa hari terakhir, ia meminta pemasangan layar besar di pusat latihan.
Tujuannya jelas: ia ingin menunjukkan pergerakan pemain secara real time menggunakan drone yang melayang di atas lapangan.
Dengan cara ini, pemain bisa langsung melihat posisi dan koordinasi mereka saat sesi latihan berlangsung. Fabregas berharap metode tersebut meningkatkan pemahaman taktik dan disiplin posisi.
Pendekatan teknologi seperti ini sebenarnya sudah diterapkan di level tertinggi. Luis Enrique pernah menggunakannya bersama Paris Saint-Germain. Musim lalu, PSG bahkan menghancurkan Inter 5-0 di final Liga Champions.
Kontributor: M.Faqih