-
Manajer Borneo FC kecewa karena larangan latihan di JIS diberikan secara mendadak saat tiba.
-
Dandri Dauri menyindir pelayanan tuan rumah dan membandingkannya dengan kenyamanan di Stadion Segiri.
-
Borneo FC akhirnya tetap berlatih di lapangan utama JIS setelah melakukan aksi protes keras.
Suara.com - Atmosfer panas sudah terasa jelang laga pekan ke-24 BRI Super League 2025/2026 antara Persija Jakarta dan Borneo FC Samarinda. Sehari sebelum pertandingan, polemik mencuat dalam sesi official training (OT) di Jakarta International Stadium (JIS) sehari menjelang laga.
Manajer Borneo FC, Dandri Dauri, mengaku kecewa setelah timnya sempat tidak diizinkan menggunakan lapangan utama JIS untuk latihan resmi.
Ia menyebut pemberitahuan larangan tersebut diterima secara mendadak, hanya beberapa menit sebelum rombongan tiba di stadion.
“Kami sudah hampir masuk ke area stadion, sekitar lima menit lagi," kata Dandri kepada awak media.
"Tiba-tiba ada surat pemberitahuan bahwa kami tidak bisa menggunakan lapangan utama serta harus latihan di luar,” ia menjelaskan.
Menurut Dandri, persoalan ini bukan semata-mata soal regulasi, melainkan tentang komunikasi yang dinilai tidak ideal.
Ia menegaskan, bila alasan teknis disampaikan sejak jauh hari, manajemen tentu bisa memahami dan menyesuaikan agenda.
“Kalau memang konotasinya memperbaiki, ya kami menyayangkan. Regulasi mungkin ada benarnya, tapi cara menyampaikannya jangan mendadak seperti itu,” tegasnya.
Mengacu Pasal 35 Regulasi BRI Super League tentang Latihan Resmi, memang tidak ada kewajiban mutlak bahwa official training harus digelar di stadion pertandingan.
Dalam kondisi tertentu, komisaris laga memiliki kewenangan memindahkan lokasi latihan. Namun, Dandri menilai waktu pemberitahuan menjadi poin krusial yang memicu kekecewaan.
Setelah melayangkan protes kepada panitia tuan rumah, Borneo FC akhirnya mendapat izin menggunakan lapangan utama JIS. Sesi latihan resmi pun berlangsung sekitar satu jam pada Senin (2/3/2026) sore WIB.
“Alhamdulillah akhirnya kami bisa latihan di dalam. Tetapi yang kami sesalkan adalah surat itu baru kami terima di dalam bus. Itu yang membuat kami bertanya-tanya,” kata Dandri.
Ia kemudian membandingkan situasi tersebut dengan pengalaman saat Persija bertandang ke Stadion Segiri, Samarinda, pada putaran pertama musim ini.
“Teman-teman Persija datang ke tempat kami, kami berikan fasilitas yang nyaman. Lampu kami nyalakan, lapangan kami siapkan sesuai regulasi. Haknya sama,” ucapnya.
“Kami ingat waktu itu karena force majeure , ada demo besar, kami maklumi.Tetapi kalau sekarang tidak ada situasi darurat, kenapa tiba-tiba seperti ini?” katanya.