- Pundit Wim Kieft dan René van der Gijp mengkritik skema build-up berisiko yang diterapkan pelatih Óscar García di Ajax.
- Maarten Paes disorot karena umpan fatal kepada Josip Sutalo yang memicu kesalahan berulang saat menghadapi lawan di lapangan.
- Kekalahan 1-2 dari FC Twente memperparah situasi Ajax yang kini tertinggal jauh dari juara Eredivisie, yakni klub PSV.
Suara.com - Performa AFC Ajax kembali menjadi sorotan setelah skema build-up dari lini belakang dinilai bermasalah.
Dua pundit Belanda, Wim Kieft dan René van der Gijp, mempertanyakan keputusan tim yang terus memainkan pola berisiko meski sering berujung kehilangan bola.
Kiper Timnas Indonesia, Maarten Paes dituding kerap memberikan umpan kepada bek Josip Sutalo, namun justru memicu kesalahan fatal.
“Dia memang bagus dalam build-up, tapi hampir tidak menyelamatkan bola. Sutalo juga bisa bilang, jangan beri saya bola lagi,” sindir Kieft dilansir dari Ajaxshowtime
Van der Gijp pun mempertanyakan keputusan klub merekrut Paes di tengah musim yang sulit.
Van der Gijp menilai gaya bermain tersebut tidak efektif dan justru memperburuk situasi tim.
Kieft menegaskan, tanggung jawab tidak hanya ada pada pemain, tetapi juga pelatih Óscar García.
“Apa yang dikatakan pelatih Ajax? Tetap lanjutkan pola ini? Mereka pasti melihat video, kenapa tidak diperbaiki?” ujarnya.
Kritik semakin menguat setelah Ajax kalah 1-2 dari FC Twente.
Dalam laga itu, Wout Weghorst ditarik keluar lebih awal, keputusan yang memicu reaksi emosional dari sang pemain.
“Saya mengerti kenapa Weghorst marah. Dia diganti pemain muda yang minim gol. Kenapa Dolberg hanya duduk di bangku cadangan?” kata Kieft.
Di sisi lain, PSV resmi menjuarai Eredivisie, meninggalkan Ajax dan Feyenoord jauh di belakang.
Agen pemain Rob Jansen menilai kondisi Ajax lebih mengkhawatirkan dibanding rivalnya.
“Ajax baru sadar mereka tertinggal lebih jauh dari yang dikira. Ini masalah besar bagi Jordi Cruyff dan butuh waktu untuk memperbaikinya,” ujarnya.
Kontributor: Adam Ali