- Wiljan Pluim menduga skandal paspoortgate terjadi karena adanya "kebijakan pembiaran" dari federasi terkait aturan larangan paspor ganda.
- Ia menilai PSSI berani mengambil risiko memberikan janji kepada pemain keturunan demi memenuhi ambisi besar meloloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia.
- Pluim menganggap para pemain tidak sepenuhnya bersalah dan memaklumi tawaran paspor WNI sangat menggiurkan karena bisa meningkatkan nilai sang pemain.
Suara.com - Polemik pasporgate yang sempat membekukan karier sejumlah pemain Timnas Indonesia di Liga Belanda turut memancing analisis tajam dari sosok Wiljan Pluim.
Mantan gelandang Borneo FC Samarinda tersebut melihat adanya korelasi antara skandal administratif ini dengan ambisi besar sepak bola Indonesia.
Melalui perbincangan di siniar Tekengeld milik saluran ESPN Belanda, Pluim secara berani menyoroti langkah yang diambil oleh federasi sepak bola Tanah Air.
Ia menduga bahwa PSSI sengaja menerapkan semacam "kebijakan pembiaran" terkait aturan ketat kewarganegaraan demi memuluskan program naturalisasi pemain.
Analisis ini muncul di tengah ramainya kasus yang menimpa Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, Dean James, hingga Tim Geypens di kompetisi negeri kincir angin.
Menurut Pluim, para pemain yang merumput di Belanda tersebut sejatinya tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas kekacauan hukum yang terjadi saat ini.
"Sulit untuk mengatakannya secara pasti, tetapi saya tidak berpikir para pemain benar-benar dijebak," kata Wiljan Pluim memberikan pembelaan.
Ia menilai bahwa pihak federasi sejak awal sudah menyadari adanya celah hukum, namun memilih untuk menoleransi hal tersebut demi mengejar prestasi instan.
"Saya berpikir bahwa dari federasi Indonesia (PSSI), hal ini memang terjadi dengan kebijakan pembiaran," kata Pluim.
Ambisi luar biasa untuk bisa menembus putaran final Piala Dunia disinyalir menjadi alasan utama mengapa federasi berani mengambil risiko besar tersebut.
"Dan bahwa mereka hanya menyatakan 'yah, kamu tahu, biasanya ini tidak boleh... eh, di negara ini kita tidak melakukannya (dua kewaraganegaraan)... hanya saja dalam situasi ini dengan Piala Dunia mendatang di mana mereka mungkin telah menjanjikan hal-hal (tertentu)."
"Mereka (PSSI) mungkin juga tidak menyangka bahwa ini pada akhirnya menimbulkan masalah."
Pluim sangat memahami bahwa memegang paspor Indonesia memang memberikan keuntungan yang sangat menggiurkan bagi seorang pesepak bola di liga domestik.
Terbebas dari kuota pembatasan pemain asing dan jaminan bermain untuk tim nasional merupakan daya tarik utama yang sulit untuk ditolak.
"Sekarang memang sudah lebih banyak, tetapi di masa lalu sebenarnya hanya ada tiga pemain asing yang bisa bermain per klub. Jadi, itu memang cukup menarik bagi para pemain saat itu," kenang Pluim.
Pemain yang mengabdi di PSM Makassar selama tujuh tahun ini menegaskan bahwa paspor WNI secara instan akan melambungkan nilai tawar seorang pemain.