-
Jutaan fans di India dan China terancam tidak bisa menonton siaran Piala Dunia 2026.
-
Penawaran rendah dari media lokal ditolak FIFA karena dianggap jauh dari nilai pasar.
-
Selisih waktu tayang dan dominasi kriket menjadi kendala utama negosiasi hak siar India.
Padahal pada edisi sebelumnya, stasiun televisi nasional CCTV biasanya sudah mengamankan hak siar jauh sebelum jadwal pembukaan.
"FIFA mencari jumlah yang sama untuk edisi turnamen kali ini," ungkap seorang sumber internal dari pihak FIFA kepada Reuters.
Keterlambatan ini menjadi sangat krusial mengingat infrastruktur penyiaran dan slot iklan membutuhkan waktu persiapan yang cukup lama.
Pengamat menilai situasi saat ini sudah memasuki fase kritis bagi keberlangsungan bisnis penyiaran sepak bola di Asia.
Sony bahkan memutuskan untuk menarik diri dari perburuan hak siar karena dianggap tidak masuk akal secara hitungan ekonomi.
Kurangnya daya tawar FIFA di hadapan konsorsium media besar menunjukkan adanya pergeseran kekuatan dalam negosiasi hak olahraga.
"Tidak banyak waktu yang tersisa tapi saya tidak akan menyebutnya jalan buntu. Ini lebih seperti kita berada di akhir permainan catur dengan beberapa langkah tersisa," jelas Rohit Potphode dari Dentsu India.
Kini publik hanya bisa menunggu apakah FIFA akan menurunkan standar harganya demi menjangkau penonton di negara terpadat dunia.
Piala Dunia 2026 akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan jumlah peserta yang lebih banyak.
India dan China merupakan pasar digital terbesar bagi FIFA, namun kedua negara ini seringkali memiliki tantangan berbeda dalam komersialisasi sepak bola dibandingkan dengan cabang olahraga lokal atau kriket.
Ketidakpastian hak siar ini menjadi anomali karena biasanya kesepakatan telah rampung setahun sebelum turnamen dimulai.