Pakar UGM Bongkar 'Dosa' Satu Dasawarsa Jokowi: Aturan Dimanipulasi Demi Kepentingan Rente

Bangun Santoso, Hiskia Andika Weadcaksana

Jum'at, 24 April 2026 | 20:10 WIB
Pakar UGM Bongkar 'Dosa' Satu Dasawarsa Jokowi: Aturan Dimanipulasi Demi Kepentingan Rente
Acara Peluncuran & Diskusi Buku Kebangkitan Kembali Otoritarianisme di Indonesia, di Kampus Fisipol UGM, Jumat (24/4/2026). (Suara.com/Hiskia)
baca 10 detik
  • Guru Besar UGM, Amalinda Savirani, menyatakan sepuluh tahun kepemimpinan Jokowi menyebabkan kemunduran demokrasi dan penyempitan ruang sipil di Indonesia.
  • Direktur CELIOS, Bhima Yudhistira, menyoroti kebijakan hilirisasi nikel dan ketimpangan ekonomi ekstrem yang memicu pemiskinan struktural bagi masyarakat.
  • Para pakar menyerukan penguatan solidaritas masyarakat sipil sebagai langkah strategis melawan otoritarianisme yang terus berkembang hingga masa mendatang.

Suara.com - Guru Besar Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Amalinda Savirani, melontarkan kritik tajam terhadap satu dasawarsa kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya sepuluh tahun Jokowi berkuasa menjadi akar kemunduran demokrasi di Indonesia.

Ia menilai penurunan kualitas demokrasi dan penyempitan ruang sipil yang terjadi saat ini merupakan konsekuensi langsung dari dominasi politik selama masa kepemimpinannya.

"Apa yang kita alami sekarang, yaitu penurunan kualitas demokrasi dan penyempitan ruang sipil itu tidak bisa kita pisahkan dari apa yang terjadi selama sepuluh tahun dominansi Jokowi," kata Amalinda dalam acara Peluncuran & Diskusi Buku Kebangkitan Kembali Otoritarianisme di Indonesia, di Kampus Fisipol UGM, Jumat (24/4/2026).

Disampaikan Amalinda bahwa penurunan peringkat demokrasi Indonesia sangat dipengaruhi oleh tergerusnya kebebasan berpendapat selama ini.

Ia menyinggung soal "inflasi pakar" yang sempat dilontarkan oleh pemegang kekuasaan sebagai upaya untuk mendiskreditkan kalangan akademisi dan membungkam kritik dari dalam kampus.

Lebih lanjut, Amalinda memaparkan bahwa rezim yang berkembang dari masa Jokowi sampai sekarang cenderung mengarah pada bentuk autokrasi melalui manipulasi aturan main secara terbuka.

Hal itu bisa dilihat dari penggunaan hasil jajak pendapat atau polling yang telah menggantikan substansi demokrasi. Di mana persepsi publik dijadikan barometer utama untuk membenarkan segala tindakan kekuasaan.

"Dari demokrasi, demos sebagai kata kuncinya menjadi autokrasi. Bagaimana persepsi publik, bagaimana rating kumpul terhadap Jokowi itu selalu menjadi barometer bagi sikap-sikap dia, tindakan-tindakan dia," ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menyoroti dampak ekonomi dari kebijakan Jokowi yang dianggapnya sangat diskriminatif.

baca juga

Bhima memaparkan data mengenai melebarnya jurang ketimpangan, di mana kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia kini setara dengan kekayaan 50 juta warga lainnya.

"Jokowi memupuk ketimpangan lewat rente. Tahun 2024, lima puluh orang yang paling kaya ini kekayaannya setara lima puluh juta orang Indonesia. Jokowi menyisakan apa? Menyisakan yang miskin makin miskin, yang menengah makin turun," tegas Bhima.

Salah satu yang disoroti Bhima yakni soal proyek hilirisasi nikel yang selama ini dibanggakan pemerintah. Menurutnya, klaim kedaulatan sumber daya alam berbanding terbalik dengan fakta di lapangan.

Adapun Indonesia justru mulai mengimpor bijih nikel dari luar negeri akibat eksploitasi besar-besaran oleh para pemburu rente.

"Nikelnya yang masih setengah mentah dikirim ke luar, hari ini kita impor dari Filipina. Gak bener Indonesia negara yang punya cadangan nikel yang gak habis-habisnya. Hampir habis pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia dikeruk oleh rente dan kebijakan hilirisasi Jokowi," tuturnya.

Selain isu ekonomi, Bhima menyoroti fenomena pemiskinan struktural yang berdampak pada munculnya kelompok reaksioner kanan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Reformasi Setengah Hati: Peneliti Soroti Tren Remiliterisasi dari Era SBY hingga Prabowo

Reformasi Setengah Hati: Peneliti Soroti Tren Remiliterisasi dari Era SBY hingga Prabowo

News | Jum'at, 24 April 2026 | 19:44 WIB

Sebut JK Idola, Pakar Komunikasi: Gibran Sudah Belajar Banyak, Tak Lagi Terpancing Kritik Pedas

Sebut JK Idola, Pakar Komunikasi: Gibran Sudah Belajar Banyak, Tak Lagi Terpancing Kritik Pedas

News | Jum'at, 24 April 2026 | 09:40 WIB

Guru Besar UGM Ingatkan Pemerintah Hati-hati soal Wacana Tarif Selat Malaka

Guru Besar UGM Ingatkan Pemerintah Hati-hati soal Wacana Tarif Selat Malaka

News | Kamis, 23 April 2026 | 19:22 WIB

Warisan Jokowi Buat RI Kebagian Duit Rp147 Triliun Dalam 3 Bulan

Warisan Jokowi Buat RI Kebagian Duit Rp147 Triliun Dalam 3 Bulan

Bisnis | Kamis, 23 April 2026 | 17:47 WIB

Jusuf Kalla di Pusaran Kasus Ijazah Jokowi, Murni Hukum atau Manuver Politik?

Jusuf Kalla di Pusaran Kasus Ijazah Jokowi, Murni Hukum atau Manuver Politik?

Liks | Rabu, 22 April 2026 | 17:29 WIB

Gibran soal Pernyataan Peran Jusuf Kalla di Karier Jokowi: Beliau Teladan Kita Semua

Gibran soal Pernyataan Peran Jusuf Kalla di Karier Jokowi: Beliau Teladan Kita Semua

News | Rabu, 22 April 2026 | 14:24 WIB

Gibran Respons Klaim Jusuf Kalla Soal Karier Politik Jokowi: Pak JK Itu Idola Saya

Gibran Respons Klaim Jusuf Kalla Soal Karier Politik Jokowi: Pak JK Itu Idola Saya

News | Rabu, 22 April 2026 | 14:17 WIB

Terkini

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

News | Senin, 14 September 2026 | 22:08 WIB

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

Bogor | Senin, 14 September 2026 | 22:05 WIB

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

News | Senin, 14 September 2026 | 22:00 WIB

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Sumut | Senin, 14 September 2026 | 21:53 WIB

Toilet Terminal Bubulak Dikeluhkan Sopir dan Pedagang, Jauh hingga Berbayar

Toilet Terminal Bubulak Dikeluhkan Sopir dan Pedagang, Jauh hingga Berbayar

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 21:47 WIB

Dugaan Pelecehan di Klub SCBD, Pengacara Korban Curiga Betrand Peto Dalam Pengaruh Zat Tertentu

Dugaan Pelecehan di Klub SCBD, Pengacara Korban Curiga Betrand Peto Dalam Pengaruh Zat Tertentu

News | Senin, 14 September 2026 | 21:38 WIB

Kabut Asap, Penderita ISPA di Pekanbaru Melonjak Capai 400 Orang per Hari

Kabut Asap, Penderita ISPA di Pekanbaru Melonjak Capai 400 Orang per Hari

Riau | Senin, 14 September 2026 | 21:37 WIB

Operasi SAR 8 Korban Hilang di Gunung Anak Krakatau Diperpanjang hingga 17 September

Operasi SAR 8 Korban Hilang di Gunung Anak Krakatau Diperpanjang hingga 17 September

Banten | Senin, 14 September 2026 | 21:37 WIB

Tak Hanya Obat, Aktivitas Kreatif Bisa Bantu Jaga Kesejahteraan Psikologis Pasien Kanker

Tak Hanya Obat, Aktivitas Kreatif Bisa Bantu Jaga Kesejahteraan Psikologis Pasien Kanker

Health | Senin, 14 September 2026 | 21:35 WIB

Temuan Jasad Pria di Pulau Enggano, Polisi Uji Match DNA dengan Keluarga Jurnalis Hilang

Temuan Jasad Pria di Pulau Enggano, Polisi Uji Match DNA dengan Keluarga Jurnalis Hilang

Banten | Senin, 14 September 2026 | 21:30 WIB

×