- Jose Mourinho membela Mikel Arteta setelah Arsenal berhasil menjuarai Premier League musim lalu meski mendapat kritik gaya bermain.
- Arsenal mengakhiri penantian 22 tahun gelar liga dengan mengungguli Manchester City melalui pendekatan pragmatis dan situasi set-piece.
- Mourinho menegaskan bahwa keberhasilan sebuah tim dalam meraih kemenangan lebih penting daripada sekadar mengikuti gaya permainan tertentu.
Suara.com - Jose Mourinho angkat bicara membela Mikel Arteta dari kritik yang muncul meski Arsenal sukses menjuarai Premier League musim lalu.
Pelatih asal Portugal itu menilai gaya bermain pragmatis The Gunners justru menjadi kunci keberhasilan mereka.
Arsenal mengakhiri penantian 22 tahun dengan merebut gelar liga, unggul tujuh poin dari Manchester City.
The Gunners juga melaju hingga final Liga Champions, meski akhirnya kalah adu penalti dari Paris Saint-Germain.
Namun, keberhasilan tersebut tak lepas dari kritik terhadap gaya bermain Arsenal yang dianggap terlalu bergantung pada bola mati.
![Perayaan gelar Liga Inggris yang diraih Arsenal setelah penantian 22 tahun diwarnai sejumlah insiden serius. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/01/16920-arsenal.jpg)
Tercatat, 35 persen gol mereka berasal dari situasi set-piece, tertinggi dalam sejarah juara Premier League.
Mourinho menegaskan kritik tersebut tidak relevan dalam sepak bola modern.
“Ada teori konyol yang mengatakan Anda bisa hebat tanpa menang. Itu bertentangan dengan esensi olahraga, karena tujuan utamanya adalah menang,” ujarnya.
Ia juga menolak anggapan bahwa Arsenal harus meniru gaya Manchester City.
“Jika Arsenal mencoba menjadi Manchester City kedua, mereka mungkin tidak akan juara. Faktanya, mereka menang, dan itu harus dihormati,” tegas Mourinho.
Pelatih yang kini kembali ke Real Madrid itu mengaku pernah mengalami kritik serupa sepanjang kariernya.
Meski begitu, ia menilai setiap tim harus bermain sesuai kekuatan masing-masing.
Mourinho bahkan menyinggung keberhasilan timnya di masa lalu, termasuk saat Inter Milan menjuarai Liga Champions dengan strategi defensif yang ikonik.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa timnya mampu tampil ofensif, termasuk saat mengalahkan Barcelona 3-1.
Mourinho menutup pernyataannya dengan mencontohkan Real Madrid asuhannya pada musim 2011-2012 yang mencetak 121 gol dan meraih 100 poin.
“Seberapa defensif tim itu?” kata Mourinho
