- Timnas Jerman tersingkir dari Piala Dunia 2026 di Gillette Stadium setelah kalah adu penalti melawan Paraguay.
- Sistem permainan asuhan Julian Nagelsmann tidak padu dan menyebabkan ketidakseimbangan taktis serta alur bola yang kurang efektif.
- Pemilihan posisi pemain yang tidak tepat serta kurangnya visi permainan memperburuk performa Jerman selama turnamen berlangsung.
Manuel Neuer memang tetap menjadi sosok penting di bawah mistar, tetapi performanya pada turnamen ini dinilai tidak berada di level terbaik.
3. Ilusi Kemajuan Tanpa Visi yang Jelas
Meski berhasil lolos ke fase gugur, banyak pihak menilai performa Jerman belum menunjukkan perkembangan signifikan dibanding kegagalan di Piala Dunia 2022.
Keberhasilan melewati fase grup dianggap lebih dipengaruhi kualitas lawan dan format baru turnamen dibanding peningkatan performa tim.
Sejak ditinggal sejumlah pemain senior setelah Euro 2024, skuad racikan Nagelsmann dinilai kehilangan kohesi dan identitas permainan.
Kekalahan dari Paraguay yang berada di peringkat ke-41 dunia menjadi bukti bahwa dominasi penguasaan bola tidak cukup tanpa efektivitas di depan gawang.
Analisis tersebut bahkan membandingkan kondisi Jerman dengan kekalahan Bayern Munchen dari Villarreal beberapa tahun lalu, ketika dominasi permainan gagal dikonversi menjadi kemenangan.
Drama Menuju Kepulangan
Kai Havertz sempat menghidupkan asa Jerman melalui gol sundulannya pada menit ke-54 untuk membalas gol pembuka Paraguay yang dicetak Julio Enciso.
Namun, gol Jonathan Tah pada babak tambahan waktu dianulir VAR sehingga harapan Jerman untuk lolos kembali pupus.
Kini masa depan Julian Nagelsmann sebagai pelatih Timnas Jerman menjadi tanda tanya, meski kontraknya masih berlaku hingga 2028.
Publik sepak bola Jerman pun menantikan langkah Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) dalam mengevaluasi kegagalan tersebut dan menentukan arah baru Die Nationalelf.
