- Sejumlah legenda sepak bola seperti Ronaldo Nazario dan Diego Maradona pernah menghadapi masalah obesitas akibat berbagai faktor kesehatan.
- Dokter Riyanny Meisha Tarliman menegaskan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang dipengaruhi oleh faktor genetik, biologis, dan lingkungan.
- Kepala BPOM Taruna Ikrar mengimbau masyarakat agar menerapkan metode Cek KLIK guna menghindari produk penurun berat badan ilegal.
Suara.com - Dunia sepak bola profesional identik dengan tuntutan kebugaran fisik tinggi bagi para atletnya.
Namun, masalah kelebihan berat badan dan obesitas juga pernah menjadi tantangan bagi sejumlah legenda lapangan hijau.
Kisah mereka menunjukkan bahwa menjaga berat badan bukan perkara yang dapat diselesaikan secara instan.
Faktor medis, biologis, mental, hingga gaya hidup dapat berperan dalam kondisi tersebut.
Legenda Brasil, Ronaldo Nazario, menjadi salah satu contoh bagaimana kondisi medis dapat memengaruhi berat badan seorang atlet.
![Legenda sepak bola Brasil, Ronaldo Nazario, ternyata sempat jadi masalah besar di Real Madrid. [Instagram @ronaldonazario.99]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/13/75122-ronaldo-nazario.jpg)
Kenaikan berat badan Ronaldo di penghujung kariernya bukan semata-mata karena kurang disiplin.
Ia pernah mengungkap bahwa dirinya mengalami hipotiroidisme, kondisi yang dapat memperlambat metabolisme tubuh.
Nasib serupa juga dialami ikon sepak bola Argentina, Diego Maradona, yang mengalami obesitas setelah pensiun dari sepak bola hingga menjalani operasi pemotongan lambung.
Masalah mental dan kehidupan pribadi di luar lapangan juga pernah dikaitkan dengan perubahan kondisi fisik Adriano Leite saat masih berseragam Inter Milan.
Hal serupa dialami mantan penyerang Tottenham Hotspur, Ahmed Mido, yang harus berjuang menjaga berat badannya seiring bertambahnya usia.
Di sisi lain, terdapat sosok Adebayo Akinfenwa yang memiliki tubuh besar sebagai bagian dari citra dan kekuatannya sebagai pesepak bola profesional.
Pemain asal Inggris tersebut pernah memiliki bobot sekitar 102 kilogram. Bobot itu ditopang oleh massa otot dan kekuatan fisik yang menjadi ciri khas permainannya.
Obesitas Bukan Sekadar Masalah Disiplin
Kisah para pesepak bola tersebut menunjukkan bahwa obesitas bukan sekadar persoalan kurangnya disiplin.
Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, menegaskan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang dipengaruhi faktor genetik, biologis, dan lingkungan.
Karena itu, upaya menurunkan berat badan secara instan menggunakan obat pelangsing ilegal atau produk yang tidak jelas keamanannya sangat tidak dianjurkan.
Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Prinindita Artiara Dewi, juga mengingatkan bahaya diet ekstrem, termasuk memangkas asupan karbohidrat secara berlebihan demi mendapatkan hasil cepat.
Tubuh, termasuk orang yang aktif berolahraga, tetap membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi dan protein untuk membantu pemeliharaan serta perbaikan jaringan otot.
Setiap individu membutuhkan pendekatan pengelolaan berat badan yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan tingkat aktivitas fisik masing-masing.
Banyak orang yang frustrasi dengan kondisi tubuhnya akhirnya menjadi korban klaim berlebihan atau overclaim produk penurun berat badan yang dijual secara daring.
Kepala BPOM RI, Prof. Dr. dr. Taruna Ikrar, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tertipu produk kesehatan yang berpotensi mengandung bahan berbahaya.
Untuk menghindari produk ilegal, BPOM menyarankan masyarakat menerapkan metode "Cek KLIK", yakni memeriksa Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa.
Pengelolaan Berat Badan Butuh Proses
Pengelolaan obesitas perlu dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan ilmu pengetahuan dan melibatkan konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.
Untuk membantu masyarakat mendapatkan informasi medis, platform edukasi NovoCare.id hadir sebagai sarana informasi dan edukasi terkait kesehatan serta pengelolaan obesitas.
Seperti pesepak bola yang membutuhkan latihan konsisten untuk menjaga performa, pengelolaan berat badan juga membutuhkan komitmen dan perubahan gaya hidup sehat dalam jangka panjang.