-
Kevin Diks mengecam aksi suporter yang menyanyikan nama Shin Tae-yong saat pertandingan berlangsung.
-
Skuad Garuda bermain dengan 10 pemain selama 60 menit usai Thom Haye dikartu merah.
-
Indonesia wajib menang besar atas Bangladesh demi mengamankan tiket menuju babak final.
Suara.com - Kapten Timnas Indonesia Kevin Diks pasang badan meminta publik memberikan apresiasi atas kerja keras timnya saat menahan imbang Malaysia tanpa gol di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Skuad Garuda terpaksa tampil pincang selama sejam penuh akibat kartu merah langsung yang diterima Thom Haye pada pertengahan babak pertama.
Tekanan berat di lapangan makin diperparah aksi sebagian tribune penonton yang menyanyikan nama mantan pelatih Shin Tae-yong saat tim berjuang keras mempertahankan skor. Reaksi emosional tribune tersebut dinilai sangat tidak adil dan justru meruntuhkan fokus mental para pemain di tengah pertempuran.
Pemain Borussia Moenchengladbach itu secara terbuka mengekspresikan kekecewaannya terhadap atmosfer negatif yang dilayangkan dari tribune pendukung sendiri. Ia menilai aksi pembandingan tersebut merusak moral tim yang sedang menguras fisik demi mengamankan poin.

“Saya rasa ini tidak benar. Ini tidak baik bagi para pemain dan tidak baik bagi pelatih,” ujar Diks dalam wawancara setelah pertandingan, dikutip dari keterangan resmi PSSI, Selasa.
Ia juga mengimbau suporter agar tidak mengambinghitamkan Thom Haye atas pelanggaran fatal yang berujung pengusiran oleh wasit. Keputusan VAR yang begitu cepat dinilainya sebagai situasi wajar yang bisa menimpa pesepak bola mana pun di lapangan.
“Ketika harus bermain dengan 10 orang, hal seperti itu bisa terjadi. Thom tidak melakukannya dengan sengaja. Itu bisa terjadi kepada siapa saja, termasuk saya. Dengan VAR, semuanya terjadi begitu cepat,” kata pemain Borussia Moenchengladbach tersebut.
Di tengah atmosfer serba sulit tersebut, Diks tetap memuji daya juang luar biasa yang ditunjukkan rekan-rekannya sepanjang sisa laga. Pertahanan rapat yang dibangun terbukti sanggup meredam gempuran lawan di depan puluhan ribu suporter tuan rumah.
Lebih dari 56 ribu pasang mata di SUGBK menjadi saksi bagaimana benteng pertahanan Garuda tampil solid hingga peluit panjang berbunyi. Hasil imbang ini dipandang sebagai bentuk kompromi terbaik atas dinamika buruk di babak pertama.
“Saya bangga kepada para pemain yang berjuang dengan 10 orang. Saya tidak tahu berapa lama kami bermain seperti itu—mungkin sekitar 60 menit. Berjuang dengan 10 orang sangat sulit, tetapi kami tetap bangga kepada para pemain,” ucap Diks.
Kedudukan imbang tanpa gol ini menahan posisi Indonesia di peringkat kedua klasemen sementara Grup A dengan raihan empat poin. Malaysia masih memimpin di puncak klasemen dengan koleksi poin yang sama namun unggul dalam produktivitas gol.
Skenario kelolosan anak asuh Garuda menuju partai puncak kini bergantung sepenuhnya pada laga pamungkas babak penyisihan grup. Target menang telak menjadi harga mati demi mengamankan tiket final turnamen kawasan ini.
Timnas Indonesia diwajibkan meraih kemenangan besar saat menghadapi Bangladesh pada pertandingan pemungkas hari Kamis mendatang. Di saat bersamaan, nasib Indonesia juga ditentukan oleh hasil bentrokan antara Malaysia melawan Singapura.
Diks menegaskan bahwa seluruh armada tim kini mengalihkan fokus penuh untuk mengejar margin gol sebanyak mungkin. Tidak ada opsi lain bagi Indonesia selain tampil menyerang sejak menit awal laga.
“Cetak gol sebanyak-banyaknya. Itu saja,” ujar Diks ketika ditanya mengenai target tim untuk pertandingan selanjutnya.
Laga sengit melawan Malaysia ini merupakan matchday kedua Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 yang berlangsung ketat sejak kick-off. Insiden kartu merah Thom Haye pada menit ke-37 menjadi titik balik utama yang mengubah konstelasi permainan kedua tim.
Konteks persaingan ketat di Grup A membuat setiap poin dan selisih gol menjadi sangat krusial bagi langkah tim nasional. Kekecewaan suporter di SUGBK menjadi latar belakang penting yang kini direspons kapten tim demi menjaga kondusivitas internal skuad.