-
Justin Hubner meminta suporter memadati stadion pada partai final FIFA ASEAN Cup 2026.
-
Indonesia lolos ke final usai mengalahkan Bangladesh 9-2 dan unggul selisih gol dari Malaysia.
-
Bek berusia 23 tahun itu menyebut pertandingan penentu tersebut sebagai laga paling gila.
Suara.com - Bek Timnas Indonesia Justin Hubner mendesak para suporter untuk memadati stadion pada laga puncak FIFA ASEAN Cup 2026 tanpa memedulikan siapa pun tim lawan yang akan dihadapi. Pasukan Garuda berhasil mengamankan tiket final usai menundukkan Bangladesh dengan skor mencolok 9-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Kemenangan besar tersebut sangat vital untuk mengungguli selisih gol Malaysia sekaligus mengunci status juara Grup A. Kepastian kelolosan ini menghadirkan kelegaan besar setelah seluruh penggawa bertanding di bawah tekanan tinggi sepanjang 90 menit.
Pencapaian dramatis ini menjadi bukti ketangguhan mental skuad asuhan pelatih dalam memanfaatkan tipisnya peluang di fase grup. Kepastian melangkah ke partai pamungkas sekaligus menegaskan dominasi Indonesia sebagai tim terkuat di turnamen kawasan ini.

"Sejujurnya, saya berharap stadion penuh. Bukan karena kami bermain melawan Bangladesh lalu hanya ada 30 ribu penonton, dengan segala hormat. Saya berharap stadion penuh. Bila kami bermain melawan Bangladesh, Argentina, Brasil, atau siapa pun, saya berharap stadion penuh," kata Justin Hubner seusai pertandingan di SUGBK, Jakarta Kamis (1/10).
Sengitnya persaingan di laga terakhir meninggalkan kesan mendalam bagi lini pertahanan tim nasional. Hubner menilai tensi pertandingan malam itu memaksa seluruh pemain tampil habis-habisan hingga peluit panjang berbunyi.
"Saya pikir ini pertandingan paling gila yang pernah saya mainkan dalam hidup saya. Kami berada di bawah banyak tekanan, tetapi jika kami bisa melakukan ini untuk para suporter dan negara, itulah yang bisa kami lakukan," ujar Hubner.
Suasana penuh ketidakpastian sempat menyelimuti ruang ganti dan lapangan begitu laga usai. Para pemain tidak langsung menyadari bahwa jumlah gol yang dicetak sudah cukup untuk membawa Indonesia ke tangga final.
Kebingungan bertambah saat melihat reaksi kubu lawan di tempat terpisah yang ikut merayakan hasil akhir. Namun perhitungan kalkulasi selisih gol akhirnya memastikan posisi Indonesia di peringkat teratas.
"Kami tidak tahu apakah sudah menang atau lolos. Saya melihat Malaysia juga merayakan setelah pertandingan, jadi kami berpikir mungkin mereka yang lolos ke final. Namun, pada akhirnya, negara terbaik di turnamen ini ada di final sekarang," tutur Hubner.
Kini fokus utama skuad Garuda beralih sepenuhnya pada persiapan menghadapi laga penentu gelar juara. Kehadiran puluhan ribu pendukung secara langsung dianggap menjadi pendorong motivasi utama para pemain di lapangan.
Pemain berusia 23 tahun tersebut berharap atmosfer SUGBK pada partai final akan jauh lebih menggelora dibanding babak penyisihan. Dukungan masif publik tuan rumah diyakini mampu melipatgandakan kepercayaan diri tim.
Persaingan sengit di Grup A menuntut Indonesia memenangi laga pamungkas babak penyisihan grup dengan marjin gol yang sangat lebar. Syarat berat tersebut wajib dipenuhi demi menggeser posisi Malaysia dari puncak klasemen akhir.
Tampil menekan sejak awal, lini serang Garuda berhasil mengamuk dan menggelontorkan sembilan gol ke gawang Bangladesh. Keunggulan agresivitas gol tersebut yang pada akhirnya mengantarkan Indonesia secara sah mengamankan tiket ke babak final.