- Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion GBK pada Senin, 5 Oktober 2026, setelah mengalahkan Thailand.
- Publik Malaysia menuding Indonesia curang akibat perubahan masa tambahan waktu saat melawan Bangladesh pada 1 Oktober 2026.
- FIFA menghukum FAM beserta tujuh pemain naturalisasi Malaysia pada 2025 akibat pemalsuan dokumen kewarganegaraan.
Suara.com - Timnas Indonesia akhirnya mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup 2026 setelah melewati perjalanan dramatis hingga partai final.
35 tahun menanti, anak asuh John Herdman sukses meraih trofi setelah menang adu penalti atas Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senin 5 Oktober 2026.
Namun, keberhasilan skuad Garuda justru kembali dibumbui tudingan dari sebagian publik Malaysia yang sebelumnya menilai Indonesia mendapat keuntungan dalam perebutan tiket final.
Sorotan itu bermula ketika Indonesia menang 9-2 atas Bangladesh pada laga terakhir Grup A, Kamis (1/10/2026).
Hasil tersebut membuat Indonesia dan Malaysia sama-sama mengoleksi tujuh poin serta memiliki selisih gol +9, tetapi Garuda unggul produktivitas gol dengan mencetak 11 gol berbanding sembilan milik Harimau Malaya.
Malaysia sendiri menang telak 6-0 atas Singapura.
Namun, kemenangan tersebut tidak cukup karena dua gol Indonesia pada masa tambahan waktu membuat posisi klasemen berubah secara dramatis.
Sejumlah warganet Malaysia kemudian mempertanyakan perubahan injury time pertandingan Indonesia versus Bangladesh.
Bahkan PM Malaysia, Anwar Ibrahim ikut polemik ini saat memberikan dukungan kepada anak asuh Tan Cheng Hoe ketika melawan Vietnam di perebutan juara ketiga FIFA ASEAN Cup 2026.
![Polemik masa tambahan waktu laga Timnas Indonesia vs Bangladesh pada matchday terakhir grup A FIFA ASEAN Cup 2026 masih terus dipermasalahkan pihak Malaysia. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/05/58341-pm-anwar-ibrahim.jpg)
Tak hanya warganet dan Anwar Ibrahim, striker Bergson da Silva juga ikut menyoroti persoalan tersebut.
Pemain kelahiran Brasil itu mempertanyakan mengapa tambahan waktu yang semula dua menit berubah menjadi tujuh menit.
Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) kemudian menyatakan akan meminta penjelasan resmi kepada FIFA mengenai prosedur perubahan waktu tambahan tersebut.
Namun, tudingan “curang” tersebut menjadi ironis jika melihat kembali persoalan dan prestasi timnas Malaysia dalam 5 tahun ke belakang.
Skandal 7 Pemain Palsu
Iri dengan gencarnya pemain keturunan Eropa yang jadi WNI dan membela Timnas Indonesia, Malaysia kemudian mengikuti pola yang sama.
Sayangnya hal itu justru berujung fatal. Pada 2025, FIFA justru menjatuhkan sanksi kepada FAM dan tujuh pemain terkait kasus pemalsuan dokumen yang digunakan untuk membuktikan kelayakan pemain membela Malaysia.
Seperti dikutip dari FIFA, ketujuh pemain tersebut adalah Gabriel Felipe Arrocha, Facundo Tomás Garcés, Rodrigo Julián Holgado, Imanol Javier Machuca, João Vitor Brandão Figueiredo, Jon Irazábal Iraurgui, dan Hector Alejandro Hevel Serrano.
FIFA menyatakan FAM menggunakan dokumen yang telah dimanipulasi ketika mengajukan pemeriksaan kelayakan kepada FIFA.

Ketujuh pemain tersebut kemudian dinyatakan melanggar Article 22 FIFA Disciplinary Code terkait forgery and falsification.
Sanksinya juga bukan ringan. FAM didenda CHF350.000, sedangkan masing-masing pemain dikenai denda CHF2.000 dan larangan beraktivitas dalam sepak bola selama 12 bulan.
Upaya banding pun tidak mengubah keputusan tersebut.
Seperti dikutip dari FIFA, Komite Banding FIFA pada November 2025 menolak banding FAM dan ketujuh pemain sehingga seluruh sanksi tetap berlaku.
Masalah tersebut bahkan merembet ke proses kewarganegaraan.
Pada Juli 2026, Enforcement Agency Integrity Commission (EAIC) Malaysia menyatakan menemukan sejumlah ketidakberesan dalam proses persetujuan kewarganegaraan tujuh pemain tersebut.
Seperti dikutip dari EAIC, temuan itu antara lain menyangkut proses izin masuk, wawancara, pemeriksaan keamanan, tes kemampuan bahasa Melayu, verifikasi pelepasan kewarganegaraan asal, hingga penyerahan paspor asing.
EAIC kemudian merekomendasikan peninjauan ulang terhadap proses naturalisasi dan dokumen ketujuh pemain tersebut.
Prestasi Mandek Timnas Malaysia
Di sisi lain, prestasi Malaysia di lapangan juga belum menunjukkan konsistensi sebagai kekuatan utama ASEAN.
Harimau Malaya gagal menembus semifinal ASEAN Championship 2024 setelah sebelumnya mencapai semifinal pada edisi 2022.
Pada ASEAN Championship 2026, Malaysia kembali mencapai semifinal. Namun, langkah mereka dihentikan Vietnam dengan agregat 0-4 setelah kalah 0-2 pada dua leg.
Yang lebih telak, Malaysia gagal ke Piala Asia 2027.
![Suporter Timnas Singapura melontarkan kritik keras setelah tim kesayangan mereka dibantai Malaysia dengan skor 0-6 pada laga terakhir Grup A FIFA ASEAN Cup 2026, 1 Oktober 2026. [Instagram famalaysia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/03/94033-malaysia-vs-singapura.jpg)
Malaysia sebenarnya sempat berada dalam posisi bagus pada kualifikasi Piala Asia 2027.
Namun skandal 7 pemain palsu menyebabkan Harimau Malaya harus telan pil pahit.
Pada Maret 2026, AFC menjatuhkan keputusan bahwa Malaysia dianggap kalah 0-3 dari Nepal dan Vietnam karena menurunkan pemain yang tidak memenuhi syarat. FAM juga didenda US$50.000.
Pada pertandingan terakhir, Vietnam kembali mengalahkan Malaysia 3-1.
AFC kemudian mencatat Vietnam sebagai juara Grup F dan memastikan tiket ke Piala Asia 2027.
Bahkan sebelum dipastikan hanya jadi penonton Timnas Indonesia di Piala Asia 2027, Malaysia punya catatan buruk saat Piala Asia 2023.
Malaysia berhasil lolos ke Piala Asia 2023 setelah menempati posisi kedua Grup E kualifikasi.
AFC mencatat Malaysia memastikan tiket ke putaran final setelah menang 4-1 atas Bangladesh dan menjadi salah satu runner-up terbaik.
Di Qatar 2023, Malaysia dibantai Yordania 4-0, kalah 0-1 dari Bahrian dan imbang 3-3 dari Korsel.
Nah di Piala Asia 2027 nanti saat tim-tim ASEAN Thailand, Vietnam, Singapura dan Timnas Indonesia, Malaysia hanya akan jadi penonton dan netizen mereka bukan tidak mungkin akan kembali koar-koar di medsos.