- Timnas Indonesia akan menghadapi Qatar, Thailand, dan Jepang di Grup F Piala Asia 2027 di Arab Saudi.
- Media Jepang menyoroti kelemahan taktik timnas mereka dalam mengatasi strategi bola panjang dan duel fisik lawan.
- Meskipun diperkuat pemain liga top Eropa, Jepang masih kesulitan mengubah pendekatan permainan saat ditekan lawan.
Ketika intensitas pressing menurun, Jepang tidak mampu segera mengubah pendekatan permainan.
Pergantian pemain maupun perubahan formasi dari bangku cadangan juga dinilai terlambat untuk mengantisipasi perubahan situasi di lapangan.
Masalah tersebut kemudian berkembang menjadi persoalan organisasi.
Jepang memiliki pemain dengan kualitas individu tinggi, tetapi kesulitan menerjemahkan keunggulan tersebut menjadi kontrol permainan ketika pertandingan berjalan di luar rencana.
Skuad Jepang saat itu dihuni sejumlah pemain yang telah terbiasa menghadapi level tinggi sepak bola Eropa.
Takefusa Kubo, Kaoru Mitoma, Takehiro Tomiyasu, hingga Ritsu Doan menjadi bagian dari generasi yang dianggap memiliki kualitas luar biasa.
Namun, kekuatan tersebut tetap memiliki batas ketika lawan mampu menemukan celah taktis.
Jepang membutuhkan lebih dari sekadar pemain berkualitas untuk membongkar pertahanan rapat maupun keluar dari tekanan agresif lawan.
Ayase Ueda menjadi salah satu sisi positif karena mampu menunjukkan ketajaman di depan gawang.
Munculnya pemain seperti Seiya Maikuma juga memberikan opsi baru bagi Jepang.
Persoalannya, kedalaman skuad belum sepenuhnya menjamin fleksibilitas taktik.
Jepang dinilai masih terlalu bergantung pada satu pola permainan dan membutuhkan rencana alternatif ketika strategi awal tidak berjalan.
Kondisi ini tentu harus dimanfaatkan betul oleh John Herdman untuk meramu dan meracik taktik buat Timnas Indonesia.
Pemilihan pemain yang nantinya bakal membela Garuda di Piala Asia 2027 juga harus dipertimbangkan dengan masak oleh pelatih asal Inggris tersebut.