- Sejumlah federasi Eropa menarik dukungan terhadap pencalonan Gianni Infantino setelah rencana komersialisasi Piala Dunia menuai kritik luas.
- UEFA membahas sebelas usulan reformasi di Berlin guna membatasi kekuasaan presiden FIFA agar tidak mengambil keputusan secara sepihak.
- Aleksander Ceferin memutuskan maju kembali sebagai Presiden UEFA untuk periode 2027 hingga 2031 dalam pertemuan tertutup.
Suara.com - Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA menghadapi tekanan setelah sejumlah federasi sepak bola Eropa menarik dukungan terhadap pencalonannya kembali.
Di tengah krisis tersebut, UEFA menyiapkan 11 usulan reformasi untuk mengubah tata kelola badan sepak bola dunia, termasuk membatasi kekuasaan presidennya.
Menurut laporan NOS, langkah UEFA itu dibahas dalam pertemuan di Berlin.
Meski rincian lengkap usulannya belum diumumkan dalam laporan tersebut, salah satu gagasan utamanya adalah mencegah presiden FIFA mengambil keputusan secara sepihak.
Krisis ini mencuat setelah rencana komersialisasi Piala Dunia yang digagas Infantino, termasuk penjualan sebagian hak Piala Dunia kepada investor swasta, menuai kritik luas.
FIFA akhirnya membatalkan rencana tersebut, tetapi keputusan itu belum meredakan ketidakpuasan sejumlah federasi dan pemangku kepentingan sepak bola.
![Ketua FIFA Gianni Infantino hadir langsung di Stadion My Dinh, Hanoi, untuk menyaksikan pertandingan final leg kedua Piala AFF 2026 antara Vietnam vs Thailand, Rabu (26/8/2026). [Dok Tuoitre]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/26/96624-gianni-infantino.jpg)
UEFA Ingin Kekuasaan Presiden FIFA Dibatasi
Usulan reformasi UEFA muncul di tengah meningkatnya tuntutan transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan FIFA.
Sejumlah pihak menilai federasi nasional, klub, dan pemain perlu mendapat peran lebih besar dalam menentukan arah kebijakan sepak bola dunia.
Empat liga elite Eropa, yakni Premier League, LaLiga, Bundesliga, dan Serie A, sebelumnya juga menyampaikan kritik bersama terhadap FIFA.
Mereka menyoroti ekspansi kompetisi yang dinilai terlalu agresif serta mendesak agar seluruh pemangku kepentingan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Keempat liga tersebut turut mengusulkan agar setiap kandidat presiden FIFA memublikasikan program reformasi.
Mereka juga mendorong penyelenggaraan pertemuan besar dalam 100 hari setelah presiden baru menjabat untuk membahas masa depan organisasi tersebut.
Aleksander Ceferin Kembali Maju sebagai Presiden UEFA
Di tengah perselisihan dengan FIFA, Presiden UEFA Aleksander Ceferin memutuskan kembali mencalonkan diri untuk periode keempat.
Keputusan tersebut disampaikan dalam pertemuan tertutup dengan federasi-federasi nasional di Berlin.
Ceferin telah memimpin UEFA sejak 2016. Jika terpilih kembali, ia akan menjalani masa jabatan 2027–2031, dengan pemilihan dijadwalkan berlangsung di Kazakhstan pada 2027.
Sebelumnya, Ceferin menyatakan tidak akan mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA, meskipun hubungan antara UEFA dan Infantino memburuk.
Hingga laporan tersebut disusun, UEFA juga belum mengajukan kandidat alternatif untuk menantang Infantino dalam pemilihan presiden FIFA.
Ceferin bahkan melontarkan kritik keras terhadap pemimpin FIFA tersebut.
Ia menyebut Infantino sebagai kaisar tanpa busana, merujuk pada kisah klasik tentang seorang penguasa yang dianggap memiliki kehebatan, tetapi kenyataannya tidak seperti yang digambarkan.