SuaraCianjur.id – Seorang sahabat bernama Khariyyah bin Khudammah pernah meminta sebuah nasihat kepada Nabi Muhammad SAW. Ia meminta nasihat amala napa yang mudah diingat dan diamalkan olehnya untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.
Kemudian Nabi bersabda “Laa taghdob walakal jannah (jangan marah! Maka kamu akan mendapatkan surga.)”.
Rasulullah SAW kemudian menerangkan, marah itu sebab tersiksanya manusia di dunia maupun diakhirat.
Dan kenyamanan surga yang didapatkan ketika menahan amarah atau bahkan tidak marah sama sekali akan dirasakan di dunia juga.
Dalam sebuah penelitian di Harvard University, terhadap 670 pria selama delapan tahun. Ketika mereka menjadi pemarah akan banyak keburukan yang menghinggapi mereka.
Banyak dari mereka yang merasakan terganggunya saluran pernapasannya dan terganggu kesehatan jantungnya.
Maka dapat disimpulkan jika marah adalah sebuah bencana baik di dunia maupun di akhirat.
Seorang tokoh Filsafat Stoisisme Seneca pernag mendalami ilmu mengenai pengendalian diri. Dikatakan wabah yang paling berbahaya di dunia ini adalah kemarahan.
Namun sebagai manusia kerap timbul pertanyaan dalam diri sendiri, ‘bagaimana kita tidak marah, jika sekeliling kita yang memancing kemarahan kita, misalnya perlakuan menjengkelkan orang lain pada kita, komentar pedas netizen, dan hal remeh lainnya.’
Baca Juga: Buruh Tolak Kenaikan Harga BBM, Siap Geruduk Gedung DPR RI Pekan Depan!
Kemudian Seneca menyangkal dengan berkata ‘Bukankah marah itu tentang dirimu sendiri? Bukan tentang hubunganmu pada orang lain.’
Lebih lanjut dijelaskan, manusia tidak akan pernah bisa mengontrol apa yang ada disekelilingnya. Tapi seseorang memiliki kontrol penuh atas apa yang ada pada dirinya sendiri. Marah adalah sebuah pilihan bukan sebuah keharusan.
Marah adalah reaksi spontan kita terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan bagi kita. Ketika kita telah mengambil marah, beberapa saat setelahnya terjadi penyesalan justru mengurung.
Hal tersebut mengisyaratkan jika tindakan marah bukan sebuah hal yang akan yang membantu menyelesaikan masalah. Namun justru sebaliknya akan memperkeruh masalah.
Banyak cara untuk meredam amarah, seperti yang pernah Rasulullah SAW ajarkan. Jika kita hendak marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah begitupun jika hendak marah dalam keadaan duduk maka berbaringlah.
Ajaran Rasulullah SAW terbukti sangat efektif, karena bagi seseorang sedang ingin marah biasanya akan melakukan sebaliknya. ketika orang yang marah dalam keadaan duduk, maka secara spontan dirinya berdiri.