SuaraCianjur.id- Dunia sepakbola Indonesia berduka usai ratusan orang menjadi korban dalam tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang usai pertandingan Arema FCvs Persebaya pada hari Sabtu (2/10/2022) malam kemarin.
Kejadian ini membuat sepakbola Indonesia disorot dunia. Bahkan korban meninggal hingga kini dikatakan oleh Wakil Gubernur Jatim, Emil Dardak, sudah adalebih dari 170 orang.
“Kami hanya merujuk pada data resmi yang kami terima. Dari BPDB Provinsi Jawa Timur, pada jam 10.30 tadi menjadi 174 meninggal dunia,” jelas Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, mengutip dari Suara.com yang melansir dari Kompas TV, Minggu (2/10/2022).
Para suporter mengamuk karena tim kesayangannya kalah dari tim tamu Persebaya Surabaya, dengan skor 2-3.
Hingga akhirnya ribuan suporter Arema FC masuk ke area lapangan Kanjuruhan setelah pertandingan selesai.
Polisi yang kewalahan mencoba untuk mengusir massa yang ricuh terpaksa harus menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa. Para suporter yang panik mencoba untuk berebut pintu keluar, hingga berdesak-desakan.
Insiden ini kemudian menjadi sorotan dunia. Beberapa media internasional turut membahasa peristiwa yang urang sedap ini.
"Bentrok antara pendukung dua tim sepak bola Indonesia di provinsi Jawa Timur menewaskan 125 penggemar dan dua petugas polisi, sebagian besar diinjak-injak sampai mati, kata polisi," seperti yang diberitakan media asal Spanyol, ESPN.
Media asal Inggris bernama Sky turut juga menyorot kejadian yang terjadi di Stadion Kanjuruhan.
“Dalam kejadian yang tampaknya menjadi salah satu bencana stadion terburuk, lebih dari 300 orang dilarikan ke rumah sakit terdekat. Tetapi banyak yang meninggal saat perjalanan atau saat menerima perawatan,” begitu kata Sky dalam salah satu artikelnya. .
The New York Time asal Amerika Serikat pun turut menyoroti aksi penggunaan gas air mata oleh aparat keamanan Indonesia.
“Lebih dari 100 orang meninggal setelah laga sepak bola di Indonesia, saat polisi berusaha memadamkan kerusuhan dengan gas air mata. Banyak yang terinjak-injak saat mencoba melarikan diri,” begitu kata The New York Times.
Bahkan media asal Korea Selatan turut membahasa masalah ini. “Lapangan sepak bola yang menjadi neraka, setidaknya 127 meninggal dalam kerusuhan di Indonesia,” tulis media Chosun.