- Pengamat Syahganda Nainggolan menilai keikutsertaan Prabowo dalam Board of Peace adalah strategi taktis membela Palestina.
- Langkah politik realistis Prabowo ini disamakan dengan upaya diplomatik Turki, Mesir, serta Yordania di sistem global.
- Prabowo dinilai berani menjelaskan kebijakan kontroversialnya kepada publik, berbeda dengan gaya Presiden sebelumnya.
Suara.com - Pengamat politik Syahganda Nainggolan menjelaskan keputusan Presiden Prabowo Subianto terkait keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP).
Meski menuai kritik karena dikaitkan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan komitmen dana besar, Syahganda menilai langkah tersebut sebagai strategi taktis untuk membela kepentingan Palestina dari dalam sistem global.
Terkait hal itu, Syahganda mematahkan keraguan publik yang menyebut Prabowo mulai melunak terhadap Israel. Ia menegaskan bahwa secara historis dan ideologis, Prabowo memiliki rekam jejak kuat dalam mendukung kemerdekaan Palestina.
Ia kembali menyinggung latar belakang keluarga Prabowo, khususnya sang ayah, Sumitro Djojohadikusumo. Menurutnya, Sumitro merupakan tokoh yang terlibat dalam gerakan internasional yang menentang pendirian negara Israel sejak masa perjuangan bersama Wakil Presiden pertama RI, Mohammad Hatta.
“Bapaknya Prabowo itu yang namanya Sumitro Djojohadikusumo itu kan ikut pertemuan, kalau nggak salah pertemuan Paris internasional waktu dia sekolah di Belanda, waktu dia itu sama Bung Hatta dan lain-lain di Belanda,” ujar Syahganda dalam kanal YouTube Bambang Widjojanto, Rabu (4/2/2026).
Mengenai keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump, dan disebut-sebut meminta komitmen dana hingga Rp17 triliun, Syahganda melihatnya sebagai bentuk “realisme politik”. Ia menilai Prabowo sedang mengambil peluang di tengah dinamika dunia yang dipengaruhi ambisi politik Trump.
“Keputusan terlibat di situ adalah keputusan taktikal. Ada opportunity besar di sana,” jelasnya.
Ia membandingkan posisi Indonesia dengan sejumlah negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Turki di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan, Mesir, dan Pakistan yang juga mengambil langkah serupa.
Menurut Syahganda, membantu Palestina tidak hanya dapat dilakukan dari luar, tetapi juga melalui jalur diplomasi formal di dalam organisasi yang diakui secara internasional.
Baca Juga: Cak Imin dan Jajaran PKB Bertemu Tertutup dengan Presiden Prabowo, Ada Apa?
“Apakah bisa kita lawan secara dari luar atau dari dalam? Nah, dari dalam ini model Prabowo, Erdogan, Raja Yordania, Maroko, mengirimkan bantuan dan mengirimkan tentara perdamaian ke sana,” ungkapnya.
Di balik keterlibatan Prabowo dalam BoP, Syahganda juga mengapresiasi keberanian Prabowo menjelaskan kebijakan luar negerinya yang dinilai kontroversial kepada publik, termasuk dengan mengundang tokoh-tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam ke Istana.
Menurutnya, langkah tersebut kontras dengan gaya kepemimpinan Presiden sebelumnya, Joko Widodo.
“Dia mau menjelaskan posisi atau putusannya itu kepada khalayak. Makanya kemudian dia undang ormas-ormas, tokoh-tokoh Islam, dia berani mengemukakan itu. Itu yang tidak terjadi pada periode presiden sebelumnya,” jelasnya.
Syahganda menilai Jokowi jarang memberikan penjelasan mendalam kepada publik terkait kebijakan strategis yang diambilnya.
“Dia (Prabowo) artinya kebijakan yang dibangunnya terus kemudian dijelaskan kepada publik. Kan dia (Jokowi) tidak lakukan dari satu sisi seperti itu,” pungkasnya.