SUARA CIANJUR - Penunjukkan Budi Arie Setiadi sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika, menggantikan Johnny G Plate, telah menimbulkan tanda tanya dan kontroversi di kalangan politisi dan pengamat.
Hal ini dianggap sebagai penghukuman yang diberikan kepada Partai Nasdem, karena kursi yang mereka miliki di kabinet berkurang satu. Pengurangan kursi tersebut merupakan akibat dari terjeratnya Johnny G Plate dalam skandal korupsi yang mengguncang pemerintahan.
Namun, yang menarik perhatian adalah fakta bahwa figur pengganti tersebut berasal dari unsur relawan Joko Widodo.
Beberapa pengamat politik, seperti Ujang Komarudin, melihat penunjukkan Budi Arie Setiadi sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika sebagai jawaban tegas dari Presiden Jokowi terhadap manuver politik yang dilakukan oleh Partai Nasdem.
Sejak akhir tahun 2022, hubungan antara Jokowi dan Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, telah menjadi renggang, terutama setelah Nasdem memilih untuk mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden.
"Penolakan terhadap kader Nasdem untuk posisi kementerian merupakan bagian dari hukuman karena dinilai telah menjalani jalur politik yang berbeda dengan Jokowi. Itu adalah risiko yang harus ditanggung oleh Nasdem atas pilihan politiknya," jelas Ujang.
Seiring berjalannya waktu, dampak dari penunjukkan Budi Arie Setiadi sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika akan terus dievaluasi dan diawasi.
Bagaimana dinamika politik antara Jokowi dan Partai Nasdem akan berlanjut, serta sejauh mana Budi Arie Setiadi mampu mengemban tugasnya sebagai menteri yang mengemban tanggung jawab di bidang komunikasi dan informatika, adalah hal yang akan menjadi perhatian dalam beberapa waktu mendatang. (*)