Deli.Suara.com - Dibalik bukit sabana dan hamparan Danau Toba nan mempesona, terselip budaya dan sejarah panjang.
Kawasan Danau Toba sungguh sangat kaya. Berbagai suku tersebar di pinggiran danau vulkanik terbesar di dunia ini.
Sekali-kali Anda boleh berkunjung ke Bakkara, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).
Bukan tanpa sebab, tempat yang dihuni oleh marga Simamora, Manullang, Purba dan Sihite merupakan kelahiran Sisingamangaraja dari I-XII. Apa saja tempatnya?
Berikut 6 lokasi wisata asyik dan bersejarah di kawasan Danau Toba Kabupaten Humbahas yang perlu Anda singgahi :
Dari atas bukit Lembah Bakkara terlihat petak-petak sawah yang menguning (saat panen) dengan sentuhan sungai yang mengalir ke danau sebagai pelengkapnya.
Jangan buru-buru dulu, untuk turun ke bawah, karena tak pas jika duduk di warung dekat lembah. Seruput kopi di kedai tersebut, sudah cukup untuk menghangatkan tubuh dari dinginnya udara.
Dianjurkan, untuk datang ke lembah sebaiknya pada pagi hari, agar sang surya terlihat sebagai penambah keindahan Lembah Bakkara.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Stagnan, Ini Rinciannya
2. Tobak Sulu-sulu
Perjalanan menuju tempat lahir Sisingamangaraja I ini berada di atas bukit desa tersebut. Perlu mendaki sedikit, agar sampai ke tempat tujuan. Sesampai di atas, sebuah gazebo yang cukup besar tersedia.
Hal ini bertujuan sebagai penduh bagi para perziarah maupun pendatang. Untuk masuk ke tempat ini, terlebih dahulu melepaskan alas kaki.
“Selain tak diperbolehkan memakai alas kaki, di tempat ini dianjurkan memakai ulos. Serta, paling pantang para pendatang yang hendak ke sini makan babi atau anjing. Karena, haram hukumnya makan kedua daging itu,” ucap Tokoh Adat Desar Marbun Dolok, Sohol Marbun.
Pantangan ini dibuat karena keparcayaan Parmalim tidak diperbolehkan makan babi dan anjing, yang sudah sejak lama dianut oleh Sisingamangaraja.
“Masyarakat di sini sangat percaya, jika ada yang makan yang diharamkan tersebut akan terkena musibhah,”terangnya.
Setelah pantangan itu dipatuhi, baru boleh untuk memasuki tempat lahirnya raja itu.
Di sini pengunjung akan melihat batu gamping yang sudah berumur sekitar 250 juta tahun yang silam atau zaman Mesozoitum.
Untuk masuk ke tempat ini, terlebih dahulu membuka sandal. Turun ke bawah, terdapat gua kecil yang dipercaya tempat lahir Sisingamangaraja.
3. Istana Sisingamangajara
Tak pas rasanya, tidak berkunjung ke Istana Sisigamangajara. Bisa dikatakan, bagaikan makan sayur tanpa garam.
Untuk menuju ke sana, jarak antara tempat kelahiran dan Istana Sisigamangaraja cukup jauh. Butuh sekitar 20 menit berkendara agar sampai di tempat singgasana Sisigamangaraja di Desa Sinambela.
Sebuah gapura besar bertuliskan “Horas” sebagai penanda masuk ke istana. Dari pagar ini, memang hanya kelihatan tangga saja, belum kelihatan keindahan istana.
Namun, terus menaiki tangga batu ini, barulah kelihatan kemegahan empat rumah Bolon tersebut. Serta memiliki halaman yang cukup luas.
Penjaga Istana Sisingamangajara, Hileria Boru Sinambela mengisahkan, kerajaan ini sempat dibakar oleh Belanda saat massa peperangan pada tahun 1883.
Konon katanya, pada tahun 1907 ibu Sisingamangaraja dan Sisingamangajara XII gugur dalam menda pertempuran. Hal hasil tempat ini cukup lama ditinggal.
“Kemudian setelah Indonesia merdeka, lalu diteempati lagi, dan dilakukan renovasi besar-besaran tahun 1980an,” ucap generasi Sisinganmangaraja ke 14 ini.
Katanya, ada juga tempat pemakaman yang diyakini Sisingamangajara I-XI (Ke 12 berada di Balige) sebagai tempat perziarah. Ada kisah yang unik dan dapat menjadi pembelajaran bagi wisatawan yakni Batu Siungkap-ungkapun.
“Batu ini merupakan sebagai penanda bagi para petani padi untuk menentukan beras warna apa yang dihasilkan merah atau putih,”ucapnya.
Jika padi itu dihinggapi semut berwarna merah, secara otomatis beras yang dihasilkan menjadi warna merah. Namun, jika semut itu berwarna hitam, hasil beras tersebut menjadi putih.
“Kebiasaan rakyat Bakkara ini sudah turun temurun, hanya saja di zaman sekarang semakin ditinggalkan. Untuk itu, kami ingin menggalakkan cerita rakyat ini,” tambahnya.
4. Batu Lubang
Setelah mengetahui sejarah singkat Sisingamangaraja dan istana indahnya, namun jangan lupa melihat kehidupan rakyatnya. Di Lubang Batu, Desa Tipang Mas sebagai saksi sejarah kehidupan masyarakat di zamannya.
Jarak dari istana ke Lubang Batu tak terpaut jauh. Hanya saja, agar mengetahui tempat ini harus berjalan kaki menyurusi perkebunan warga sekama 10 menit lamanya.
Setelah sampai, terlihat dua rumah Bolon yang sudah cukup usang warnanya. Diyakini, rumah ini sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu. Kabarnya, cat yang digunakan adalah beradal dari batu-batuan yang dilembur menjadi sebuah cat.
Di dekat rumah itu, ada sebuah kuburan batu berwarnah putih dengan bentuk patung.
Ternyata, tempat ini adalah diyakini kuburan Opu Raja Julu, yang sejak 300 tahun yang silam telah ada. Kuburan ini dianggap asli, karena pemakamannya memakai batu asli yang sudah berusia ratusan tahun lalu, dan tulang-tulang masih ada di dalam.
Tak kalah menariknya melihat Batu Lubang yang tak jauh dari kuburan tersebut. Tempat ini dulunya diyakini adalah tembok perkampugan dengan luas berdiameter 300 meter x 6 meter. Dulunya, berfugsi sebagai penahan dari perlawanan penjajah Belanda.
5. Air Terjun Janji
Dari pinggir jalan, suara gemericik air terjun sudah memanggil kita. Naik tangga, sebuah air terjun yang panjangnya sekitar 40 meter diapit oleh bukit-bukit sabana telah menyapa kita.
Sedikit menyentuh air terjun, sudah membuktikan rasa kesegarannya. Wisatawan terutama yang tinggal di Dolok Sanggul sering berkunjung di air terjun ini.
6. Desa Simangulampe
Di tempat ini juga dapat menikmat indahnya pinggiran Danau Toba di dermaga. Bagi yang suka memancing, tempat ini cukup spot yang cukup baik, atau sekedar menikati sejuknya udara pinggiran pantai danau. Bagi yang suka berenang boleh juga, sebagai merasakan sejuknya air danau vulkanik terbesar di dunia ini.
Reporter: Beni Nasution