“Jadi tukang sapu kok bisa nguliahin anak, punya motor Rp9 juta?” tanya Kang Dedi.
“Yang penting mah percaya, Pak, sama Allah,” kata Acong yang merupakan mualaf sejak usia 14 tahun.
Akhirnya, Acong pun cerita bahwa anaknya termasuk pintar. Sehingga mendapat beasiswa dari pemerintah. Per semester dapat dari pemerintah Rp4 juta. Kemudian Acong memberi Rp1 juta jatah bulanan ke sang anak.
“Jadi semuanya sekolah dan semuanya rencana akan dikuliahkan?” tanya Kang Dedi.
Acong membenarkan. Kang Dedi Mulyadi pun salut kepada Acong yang hanya tenaga harian lepas namun punya tekat dan semangat untuk menyekolahkan anak-anaknya, bahkan sampai perguruan tinggi.
“Top! status sehari-hari hanya tukang sapu. Tenaga harian lepas. Tekat dan semangat membuat Acong hidupnya penuh dengan upaya dan optimis bahwa menyekolahkan anak tidak akan membuat hidup menjadi bangkrut, rezeki akan selalu mengalir. Keren!” kata Kang Dedi Mulyadi.
Kang Dedi melanjutkan bahwa ini contoh salah seorang bahwa pendidikan atau menyekolahkan anak jangan sekali-kali berpikir tentang biaya, kemampuan dan sejenisnya. Karena, lanjutnya, orang-orang yang punya keyakinan, kerja keras pada akhirnya rezekinya ada. Dan rezekinya ada pada orang yang rajin.
“Acong ini termasuk tukang sapu yang rajin. Nggak pernah berhenti dari dulu. Diperhatiin sana balik lagi di sana balik lagi sana balik lagi sehingga daerah yang disapu cong itu daerah yang paling bersih dari situ saya melihat bahwa ini orang rajin harus dikasih support,” pungkasnya. (*)