Suara Denpasar-Saat ini sorotan dunia sedang tertuju ke Bali menjelang pelaksanaan KTT G20. Namun selain itu ada juga acara BNEF Summit yang menjadi acara resmi G20. Aacara tersebut mempertemukan para pemimpin industri dan investor dari seluruh Asia untuk berkolaborasi bersama menuju net zero emission.
Zero emission menjadi salah satu fokus yang ditangani dunia saat itu demi bumi dan alam yang bersih dari emisi. Chevron, bersama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi serta the Asia Natural Gas and Energy Association (ANGEA), lalu berdiskusi untuk mencapai tujuan tersebut.
Dalam diskusi itu, BloombergNEF (BNEF) Net Zero Summit bertujuan menekankan pentingnya kolaborasi dalam mendorong pencapaian target masa depan rendah karbon.
Partisipasi Chevron dalam BNEF Summit ini menyusul ditandatanganinya perjanjian kerja sama Chevron dengan Pertamina dan Keppel Infrastructure dalam mengeksplorasi pengembangan proyek hidrogen hijau dan amonia hijau di Indonesia kemarin.
“Kolaborasi ini merupakan hal yang penting dalam mendukung inovasi dan mendorong transisi energi. Untuk itu, Chevron terus berkomitmen dalam berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan demi mencapai tujuan-tujuan energi nasional.
ANGEA dan Pemerintah Indonesia juga telah memberikan banyak masukan mengenai bagaimana industri, asosiasi, dan pemerintah dapat bekerja sama dalam mencapai target net zero emission, baik di Indonesia maupun kawasan Asia Pasifik,” ujar Wahyu Budiarto, Country Manager Chevron Indonesia.
Sementara itu, Ridha Yasser,
Direktur Energi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mengatakan, pemerintah Indonesia telah menetapkan target penggunaan energi baru terbarukan (EBT) hingga 23 persen pada tahun 2025. Tertuang dalam roadmap transisi energi sebagai bagian dari Grand National Energy Strategy (GSEN).
"Untuk mencapai angka tersebut, kolaborasi antara pihak swasta, pemerintah, dan lembaga lainnya menjadi suatu hal yang fundamental, khususnya dalam menyeimbangkan akses energi, dampak lingkungan dan sosial-ekonomi, serta pengembangan teknologi. Adanya kerja sama ini dapat mengakselerasi pencapaian target Indonesia untuk mencapai net zero emission,” ujar Ridha Yasser,
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kebutuhan energi Indonesia diproyeksikan mencapai 2,9 miliar setara barel minyak (SBM) pada tahun 2050. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kerja sama antara berbagai pihak, termasuk penyedia gas alam, dapat diselaraskan dengan meningkatnya penggunaan energi terbarukan yang didukung oleh ANGEA.
“Kolaborasi sangatlah penting, baik untuk ketahanan maupun transisi energi, di mana keduanya bagaikan dua sisi mata uang yang sama jika didukung oleh kebijakan yang sesuai. Untuk mendorong masa depan energi yang lebih rendah karbon serta memungkinkan pertumbuhan ekonomi, kita perlu secara kolektif membangun rantai nilai baru di seluruh daerah yang memungkinkan adanya peningkatan penggunaan teknologi baru, seperti CCUS (carbon capture, utilization, and storage), Hidrogen, dan amonia,” tutup Paul Everingham, Chief Executive Officer ANGEA.