Suara Denpasar - Telepon Asnawi Mangkualam melalui telepon seluler, Ketum PSSI, Mochamad Iriawan alias Iwan Bule diancam warganet di Instagram pribadinya, @mochamadiriawan84.
Setelah Tragedi Kanjuruhan, ketua umum PSSI diminta mundur pecinta sepak bola tanah air karena dianggap telah gagal.
Permintaan mundur warganet atas ketua umum PSSI yang biasa disapa Iwan Bule digaungkan melalui sosial media, terutama Instagram.
Hal ini menjadi polemik karena di mata para pemain Timnas Indonesia, Iwan Bule merupakan pahlawan.
Sehingga mendapat banyak pembelaan dari mereka yang mengenal Iwan Bule secara dekat, termasuk Shin Tae Yong.
Tak mau kalah, Asnawi Mangkualam sebagai kepercayaan Shin Tae Yong turut membela Iwan Bule di media sosial.
Asnawi Mangkualam sempat menuliskan bahwa di tangah Iwan Bule, sepak bola Indonesia mengalami perkembangan pesat.
Hal itu dirasakan Asnawi Mangkualam setelah menjadi bagian dari Timnas Indonesia dan berjuang untuk Piala AFF 2020.
Perjuangan lain yang dirasakan Asnawi Mangkualam bahwa Iwan Bule berhasil membangun kedekatan dengan para pemain.
Terbukti dengan selalu menelepon anak-anak asuhnya seperti yang dilakukannya hari ini, berkomunikasi langsung saat sedang TC.
Baca Juga: Aduh! Shin Tae-yong Bikin Pengakuan Mengejutkan Perihal Kondisi Finansial PSSI, Begini Katanya
Iwan Bule mengabarkan bahwa TC yang dilakukan di Bali berjalan baik, informasi itu didapatkan dari Asnawi Mangkualam.
Seketika, image Iwan Bule berubah menjadi baik di mata pecinta sepak bola tanah air, terlihat dari banyak pesan di kolom komentarnya.
Di antara mereka bahkan mengancam Iwan Bule melalui Instagramnya, jika ia betul-betul pergi meninggalkan PSSI.
Warganet mengatakan bahwa Iwan Bule harus tetap pada posisinya, sementara yang lainnya meminta purnawirawan polri itu untuk melanjutkan jabatannya.
“Awas aja gak daftar lagi lu, harus dua periode,” tulis @zonc08.
“Wajib!” jawab @asshrofisz_19.
Polemik tentang Iwan Bule di kasus Kanjuruhan belum juga final hingga hari ini. Walaupun begitu, turnamen Liga 1 akan segera dilanjutkan.
Dengan catatan, kompetisi Liga 1 akan dilakukan dengan sistem bubble dan dilakukan tanpa adanya penonton.
Bagi para pemain, ketiadaan penonton di stadion merupakan sebuah siksaan nyata, karena tidak adanya support langsung bagi mereka. (*/Aryo)