“Sesoedah masoek itoe, saja poetoeskan perhoeboengan dengan pihak politie,” aku Agus Salim dalam tulisannya, dikutip dari Allan Akbar.
Walau dia mengaku sudah memutuskan hubungan dengan PID setelah dia masuk Sarekat Islam pada 1915, ternyata Agus Salim berbohong. Secara rahasia dia masih membuat laporan-laporan tentang kegiatan Sarekat Islam untuk diberikan kepada pemerintah.
“Laporan-laporan ini tidak pernah diketahui oleh pemimpin Sarekan Islam,” tulis Allan Akbar merujuk pada karya A.P.E. Koerver, “Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil?” (1985).
Dalam perjalanannya di Sarekat Islam, Agus Salim menjadi salah satu pimpinan yang paling keras membersihkan SI dari pengaruh merah. Konflik ini berujung perpecahan dalam SI, antara SI Putih dan SI Merah. SI Merah kelah menjadi Sarekat Rakyat.
Agus Salim meninggal dunia pada 4 November 1954. Meski pernah memiliki cacat sebagai mata-mata pemerintah kolonial Hindia Belanda, berkat jasa-jasanya yang ikut dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Presiden Sukarno menganugerahinya gelar pahlawan nasional pada 1961. (*)