Suara Denpasar – Kisah sedih kehidupan keluarga Regina, siswi SMPN 4 Darangdan, Purwakarta, korban bully membuat Dedi Mulyadi iba. Anggota DPR RI itu langsung mengambil Regina sebagai anak angkatnya, sekaligus mengambil tanggung jawab kebutuhan keluarga ini.
Ini untuk kesekian kali Dedi Mulyadi mengangkat anak. Sebelumnya dia sudah banyak mengangkat anak.
Khusus Regina, berawal dari peristiwa yang tak terduga. Yakni kasus siswi kelas 1 SMPN 4 Darangdan, Purwakarta, yang dibully teman sekelasnya.
Regina adalah anak yang mengalami disabilitas. Tangan kanannya mengalami cacat, lumpuh, sejak lahir.
Dia kerap menjadi objek perundungan karena keterbatasan fisiknya. Puncaknya adalah ketika dia menangis dan menjerit akibat bullying tiga teman lekaki sekelasnya.
Kala itu, ibu wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, Yoyos ikut tertimpa masalah. Sebab, ketika dia menginterogasi tiga anak yang membully Regina, secara spontan memukul menggunakan gagang sapu ijuk kepada salah satu pelaku bully.
Akhirnya, Yoyos pun dilaporkan ke polisi. Dan diminta uang damai Rp50 juta oleh orang tua siswa yang dipukul itu.
Kasus ini membuat Dedi Mulyadi turun tangan. Dia pun pasang badan untuk bu Yoyos.
Di tengah mengadvokasi bu Yoyos, terungkap sisi lain dari Regina. Selain anak disabilitas, ternyata kehidupan Regina terbilang tragis.
Itu terlihat saat Dedi Mulyadi bersama dua guru, termasuk Bu Yoyos bersama Regina mendatangi rumah Regina. Ibu Regina ternyata memiliki penyakit komplikasi. Salah satunya gagal ginjal, sehingga harus cuci darah dua kali per minggu.
Saat dia memiliki penyakit komplikasi, sebetulnya sudah dilarang untuk hamil lagi. Kalau hamil lagi dan melahirkan, maka berpotensi terjadinya kebutaan atau lumpuh.
Ternyata, setelah melahirkan anak ketiganya, kini ibu dari Regina menjadi buta. Dia juga tetap harus cuci darah. Sekali cuci darah habis ongkos Rp300 ribu.
“Ini bekel cuci darah untuk ibu. Bisa untuk beberapa puluh kali,” kata Dedi Mulyadi.
Tak berhenti di sana, Kang Dedi mendapat cerita tragis lainnya. Setelah sang ibu dari Regina buta, ayahnya kawin lagi, sekitar enam bulan lalu.
Konon, ayah Regina kini sudah tak bersama lagi. Dia bersama istri barunya. Juga tak memberi perhatian nafkah. Akibatnya, keluarga ibu Regina ini hanya mengandalkan donasi dari warga.
Kang Dedi minta tak perlu berpikir lagi tentang suaminya. Karena sudah punya kehidupan sendiri dengan istri barunya. Ibu Regina lebih baik fokus kesembuhan atas penyakitnya.
Dedi Mulyadi mengungkapkan, dia orang yang selalu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Siswa berinisial W, katanya, tidak nakal. W digerakkan alam untuk membully Regina. Kemudian, ibu guru Yoyos memukul W. Selanjutnya ayah dari W melapor polisi.
“Kalau tidak ada lapor polisi, saya tidak akan datang ke sini. Saya tidak akan tahu masalah ini dan saya tidak akan bisa bantu karena tidak tahu,” kata Dedi Mulyadi.
Atas kondisi itu, hati Dedi Mulyadi langsung tersentuh. Seketika, tanpa pikir panjang, dia langsung mengambil keputusan mengejutkan.
“Neng (Regina) mulai hari ini Neng anak angkat saya,” kata Dedi Mulyadi kepada Regina dan di hadapan keluarganya, termasuk bu Yoyos yang ikut mengantar.
Suasanya pun berubah haru. Bu Yoyos memeluk Regina yang duduk di sampingi Dedi Mulyadi. Mereka menangis. Kang Dedi ikut menangis, diikuti tangis haru keluarga lainnya. Kang Dedi mengelus kepala anak angkatnya.
Dedi Mulyadi mengambil alih tanggung jawab keluarga ini. Dia minta menghentikan donasi. Ia pun berencana membawa Regina ke dokter orthopedi. Sedangkan kakaknya yang putus sekolah di kelas 3, akan disekolahkan lagi. (*)