Suara Denpasar - Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Denpasar Sanctus Paulus ikut menyayangkan tindakan Bule atau warga negara asing di Bali yang semakin hari semakin meresahkan.
Perilaku amburadul para Bule tersebut telah membuat resah masyarakat Bali. Mulai dari ugalan-ugalan di jalan, penyalahgunaan visa, tidak membayar hotel, melakukan perbuatan asusila ditempat suci bahkan sampai mempersoalkan ayam berkokok.
Cukup banyak tindakan melawan hukum yang dilakukan. Tercatat dalam periode tahum 2022 saja ada 179 WNA yang dideportasi oleh Imigrasi Kelas I TPI Denpasar.
Saat ini di Bali lagi trend dikalangan Bule adalah menggunakan sepeda motor tanpa nomor polisi. Plat motor dibongkar kemudian diganti dengan tulisan nama pada plat motor yang dikendarai.
Menanggapi fenomena tersebut, Presidium Gerakan Kemasyarakatan (Germas) PMKRI Cabang Denpasar, Risaldus Pan memberi komentar. Dia mengatakan tindakan ngeleneh para Bule itu tidak bisa ditolerir. Mengingat tindakan tersebut melawan hukum dan harus ada konsekuensi hukum yang diberikan.
"Konsekuensi hukum harus diberikan dan ditegaskan, mengingat pelanggaran yang dilakukan sudah sangat marak. Jika ini dibiarkan maka akan terjadi pelemahan hukum. Jangan sampai hukum negara kita ini akan diinjak-injak," kata Risal kepada denpasar.suara.com, Rabu (8/3/2023).
Lebih lanjut Risal mengatakan perlunya antisipasi dan pengawasan bersama. Karena Bali merupakan destinasi dunia, hampir sebagian warga dunia mengetahui Indonesia karena Bali. Maka itu perlu dijaga dengan baik jangan sampai terjadi penjajahan model baru.
Ia berpendapat bahwa dalam pengamatannya Bali tidak anti terhadap bule atau siapapun yang ingin datang ke Bali. Namun tidak dengan perilaku yang bertolak belakang dengan budaya Indonesia terutama Krama Bali.
"Tugas ini tidak harus dibebankan kepada pemerintah saja, tapi sudah menjadi tanggungjawab bersama. Mulai dari pemerintah, pelaku pariwisata, instansi penegak hukum, masyarakat adat dan kita semua. Mengingat Bali hampir bisa dikatakan representasi Indonesia, kalau mereka bertindak seenaknya maka marwah dan moral bangsa kita ini yang dipertaruhkan.
Baca Juga: Komplotan Pencuri Motor di Medan Diringkus, 2 Pelaku Ditembak
Sebetulnya Bali tidak anti terhadap siapa pun yang ingin berkunjung. Yang diharapkan itu bagaimana para pengunjung itu menyesuaikan diri," sambungnya.
Ke depan kata dia, metode promosi pawisata Bali harus berubah. Yang selamai ini hanya fokus pada keindahan alam dan kekayaan budaya, sudah semestinya Krama Bali ikut serta di dalam promosi pariwisata.
"Krama Bali sudah harus disosialisasikan lebih awal yaitu pada saat promosikan pariwisata Bali agar diketahui sebelum mereka datang ke Bali" kata Risal.
Lebih lanjut Risal mengapresiasi pihak Imigrasi, Kepolisian, pemerintahan serta semua pihak yang sudah bertindak tegas.
"Kita apresiasi semua pihak yang selama ini sudah bekerja dengan baik. Baik itu dalam bentuk sosialisasi maupun penindakan hukum oleh instansi-instansi terkait," pungkasnya. (*/Dinda)