Suara Denpasar - Dicabutnya status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 tengah menjadi perbincangan hangat.
Selain menimbulkan kekecewaan di hati para pemain, pelatih hingga suporter, pencabutan ini juga sangat mempengaruhi perekonomian negara.
Sebagaimana diketahui, pencabutan ini dipengaruhi oleh penolakan sejumlah politikus terhadap keikutsertaan Timnas Israel karena negara mereka masih menjajah Palestina.
Situasi ini menjadi sorotan banyak pihak, termasuk jurnalis ternama Najwa Shihab. Wanita yang akrab disapa Mbak Nana ini pun berbicara tentang tudingan standar ganda yang disematkan publik pada FIFA.
Menurutnya, bukan hanya FIFA yang menerapkan standar ganda, namun juga aparat penegak hukum di Indonesia yang memvonis bebas tersangka tragedi Kanjuruhan.
"Kalau kita bicara spesifik hipokrit dan standar ganda, mari juga lihat argumen yang sebelah nih," ujar Najwa Shihab seperti dikutip dari akun Twitter @MataNajwa, Kamis (30/3/2023).
Dia melanjutkan, "Kalau kita mau jujur berkaca, yang standar ganda bukan cuma FIFA tapi juga kita. Kita lantang bicara atas nama kemanusiaan dan kesetaraan, atas nama Palestina."
Meski demikian, Najwa Shihab merasa bahwa Indonesia terkesan tutup mata atas tragedi Kanjuruhan yang menelan banyak korban jiwa.
Dia menuturkan, "Tapi kita menutup mata atas ketidakadilan yang terjadi di tragedi terbesar di negeri ini bahkan di dunia, tragedi Kanjuruhan."
"Kalau kemudian berharap kita lantang membela penderitaan penindasan rakyat Palestina, hal yang sama juga harusnya ditunjukkan ke korban tragedi pembantaian Kanjuruhan, yang bahkan pelakunya sekarang divonis ringan bebas dan mengalihkan tanggung jawab ke angin yang bergoyang," pungkasnya.
Sementara itu, Indonesia sejatinya akan menggelar Piala Dunia U-20 pada 20 Mei hingga 11 Juni mendatang. Karena pelaksanaannya hanya tinggal dua bulan, banyak yang menyayangkan pembatalan FIFA ini.(Rizal/*)