Suara Denpasar - Jelang Hari Raya Idul Fitri ada-ada saja modus untuk meminta sumbangan. Bukan hanya dari organisasi masyarakat (Ormas), para pengusaha juga mendapat surat dari institusi resmi.
Kali ini yang menjadi viral adalah surat BNN Kota Tasikmalaya meminta THR atau paket Lebaran kepada perusahaan otobus (PO) Budiman.
Kepada awak media Kepala BNN Kota Tasikmalaya Iwan Kurniawan Hasyim menyatakan surat itu sudah dicabut dan meminta maaf atas kesalahan itu.
"Saya berpikir sebenarnya hanya untuk anggota tapi sudah dicabut," begitu katanya. Jadi, permintaan THR itu tujuannya untuk memberi bantuan Lebaran bagi anggota BNN.
"Tujuannya untuk berikan tambahan buat anggota dalam bentuk barang sembako, mohon maaf ini salah dan kesalahan saya untuk dimaklumi saya tidak menyadari jadi seperti ini," imbuhnya.
Dalam surat permintaan THR itu memang dinyatakan ada 28 anggota BNN yang diharapkan bisa menerima bantuan Lebaran atau THR.
Atas fenomena permintaan THR itu pun mengusik hati novelis Tere Liye. Dalam akun facebooknya yang dikutip denpasar.suara.com, Kamis 13 April 2023.
Dia pun menulis: "*Marwah. Kalian harus mengenal kata ini: 'marwah' Apa artinya? Kehormatan. Harga diri. Penting sekali mengenal kata ini, lantas diresapi, kemudian dilaksanakan dengan gagah. Kita itu punya marwah saat lahir. Diberikan ke setiap manusia. Agar kita bisa mencegah dari prilaku tidak pantas. Salah-satunya, meminta2.
Boleh meminta2? Boleh saja. Anak minta duit ke orang tua. Masuk akal. Karyawan minta gajinya naik. Juga masih masuk akal.
Baca Juga: Rocky Gerung, KPK Kini di Ketiak Presiden
Satpam kompleks minta THR ke penghuni kompleks yg dia jaga. Juga masih okelah. Tapi saat konteksnya tidak ada, kita meminta2 kemana saja, seriusan deh, Kawan. Kita itu pengemis? Kita itu punya harga diri tidak sih?
Contoh. Surat dari BNN Tasikmalaya ke perusahaan ini, mereka minta THR. Isi surat ini sungguh kocak. Dibuka dengan basa-basi selamat lebaran, cahaya suci Idul Fitri bla bla bla.
Lantas di bold (dibuat tebal), mohon partisipasi dan apresiasi. Mohon kok kamu bikin bold hurufnya? Apresiasi? Whaaat, apanya yg mau diapresiasi saat kamu minta2 begini?
Setiap lebaran, surat2 begini berseliweran dimana2. Ormas minta THR. Preman2 minta THR. Kelurahan/desa minta THR. Lembaga2 minta THR.
Mereka kirim kemana2 suratnya. Kamu nyadar nggak sih, ini mirip kayak malak orang lain. Ruko2, toko2, perusahaan2, sudah biasa sekali dapat surat beginian.
Kok bisa mereka 'kreatif' begini? Sederhana: karena tidak punya marwah. Kehormatan diri. Menjaga diri dan keluarga dari tabiat minta2. Merasa miskin, merasa berhak dikasih, merasa sah-sah saja, boleh2 saja mengemis.