denpasar

Kang Dedi Mulyadi Bentak Ibu Pedagang Combro: Kenapa Jualannya Murah Amat?!

Suara Denpasar Suara.Com
Kamis, 20 April 2023 | 15:50 WIB
Kang Dedi Mulyadi Bentak Ibu Pedagang Combro: Kenapa Jualannya Murah Amat?!
Kang Dedi Mulyadi Bentak Ibu Pedagang Combro: Kenapa Jualannya Murah Amat?! (Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel)

Suara Denpasar – Kang Dedi Mulyadi membuat pedagang kue combro dan misro terkaget-kaget. Dia membentak sang pedagang kenapa jualannya murah-murah amat.

Itu terjadi saat Kang Dedi bertemu pedagang keliling di Subang, Jawa Barat. Seorangbu pedagang berkerudung melintas dengan menjunjung dagangannya.

Kala Kang Dedi Mulyadi melintas dengan mobilnya, dia meminta sang sopir mengurangi laju mobilnya di samping pedagang berkerudung merah yangsedang berjalan di pingir jalan tersebut.

“Bu, jualan apa, Bu?” tanya Kang Dedi dalam kondisi mobil melaju sangat pelan dikutip dari kanal Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel, Kamis (20/4/2023).

“Combro, Pak,” kata sang pedagang.

“Dijual (atau) gak?” tanya Kang Dedi dengan intonasi tegas.

“Dijual atuh, Pak,” ujar pedagang.

Kang Dedi memesan combro 10 biji. Bertanya pula berapa harga satu biji.

“Rp5.000 (dapat) empat, Bapak,” jawab sang pedagang.

Baca Juga: Kang Dedi Terkejut Ada Bocah SD Ngamen untuk Beli Motor Bercita-cita Jadi Anggota Ormas

“Murah-murah amat dijualnya?!” katanya.

Pertanyaan ini ditangkap salah oleh pedagang. Seolah Kang Dedi bertanya satir. Pertanyaan "kenapa murah", dianggap sebagai kebalikannya yakni "kenapa mahal".

“Saya pengin Rp5.000 (dapat) satu,” kata Kang Dedi agak membentak.

“Rp5000 (dapat) satu? Alhamdulillah, Bapak. Nyakan? (beneran?), Ya Allah. Alhamdulillah, Bapak,” ucap sang pedagang terkaget-kaget kegirangan.

Tak berhenti di sana. Kang Dedi melanjutkan isengnya hingga membuat sang pedagang kebingungan. 

“Berdiri dulu. Saya mau Rp10 ribu (dapat) satu,” ujarnya.

Kang Dedi kemudian memesan kue combro sebanyak 20 biji. Dia menanyakan berapa jadinya kalau 1 biji seharga Rp10 ribu.

Si pedagang kebingungan. Dia tak bisa menghitung dengan tepat.

“Rp200 ribu, eh, Rp100 ribu?” tanya pedagang.

“Kan ibu yang dagang. Coba hitung,” katanya.

Ketika pedagang tak kunjung menyebutkan berapa total uang yang harus dibayar untuk 20 combro, Kang Dedi menambah pesanan 10 lagi. Dengan sigap, si pedagang memasukkan combro ke plastik kresek.

Ternyata jumlah combronya tidak cukup. Sudah habis. Hanya ada 5 combro lagi. Si pedagang menawarkan misro dan bakwan.

“Gak mau. Combro aja,” kata Kang Dedi masih dengan intonasi tegas.

“Berapa Rp10 ribu kali 25?” tanya Kang Dedi.

Ibu pedagang ini menebak-nebak. Dia menyebut Rp250 ribu, tapi agak ragu. Dia mengaku tidak sekolah. Mantan bupati Purwakarta ini akhirnya minta tambah misro sebayak lima. Sehingga total kue yang dibeli Kang Dedi sebanyak 30 biji.

“Alhamdulillah, Bapak. Bisa buat bayar zakat. Alhamdulillah,” ucap si pedagang sambil menyerahkan misro ke bapak tiga anak ini.

Sang ibu mengatakan, dia ingin agar anak peremuannya, si bungsu, yang masih sekolah kelas 3 SMA bisa ikut membayar zakat fitrah jelang Lebaran ini. Dia mengaku suaminya dulu bekerja sebagai office boy (OB) di proyek PT Adhi Karya, namun sudah meninggal dunia tiga tahun lalu.

Dia memiliki empat anak. Anak pertama sampai ketiga sudah menikah. Tinggal si bungsu. 

“Kenapa ibu bayar zakat. Harusnya kan ibu yang dapat zakat. Anak ibu kan yatim,” tandas Kang Dedi.

Sang ibu pedagang tidak tahu. Dia kebingungan. Dia sudah biasa membayar zakat. Dia merasa tidak miskin meski cuma sebagai pedagang kue keliling. 

Sang ibu mengatakan anaknya yang bungsu sedang di rumah, membuat combro.

“Si bungsunya lagi goreng combro? Di mana rumahnya? Mau dilamar jadi istri saya?” tanya Kang Dedi.

Ibu pedagang senyam-senyum. Akhirnya Kang Dedi merogoh saku, mengeluarkan uang Rp300 ribu dari dompetnya.

“Alhamdulillah, Bapak. Mana baru lagi (uangnya),” katanya.

“Nih uang zakatnya. Kan calon istri,” seloroh Kang Dedi sambil memberi uang ke sang ibu. 

Tidak berhenti di sana. Kang Dedi memberikan lagi segepok uang untuk membeli pakaian baru saat Lebaran. Sang ibu menangis terharu. 

“Terima kasih, Bapak. Bapak orang baik,” tandasnya.

“Enggak. Saya mah bukan orang baik. Itu mah karena saya mau melamar anak ibu,” kata Kang Dedi dengan gaya kocak.

Lalu Kang Dedi memberi lagi beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan. Tak henti-hentinya sang ibu pedagang combro mengucapkan terima kasih. 

Sambil menenagis terharu, sang ibu pedagang combro mengatakan akan pulang. Kuenya akan diberikan ke oranglain. Uang pemberian dari Dedi Mulyadi itu sudah cukup. (*)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI