Suara Denpasar - Gubernur Bali Wayan Koster seolah masih sakit hati. Dia ngambek dengan sikap para pelaku pariwisata sebelum dan sesudah pandemi Covid-19.
Hal itu disampaikan Koster dalam sambutan pembukaan workshop tentang "Dukungan Eksekutif dan Legislatif dalam Pengembangan Program Air Minum di Perkotaan (National Urban Water Supply Project/NUWSP)."
Kegiatan itu diselenggarakan oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia dan World Bank dengan menghadirkan Bupati, Walikota dan DPRD perwakilan dari 416 Kabupaten, 98 Kota dan 38 Provinsi di seluruh Indonesia di Trans Resort Hotel, Seminyak, Kuta, Badung, Kamis (3/8/2023).
Gubernur Koster mengibaratkan para pelaku pariwisata itu seperti kacang lupa kulit alias saat pandemi Covid-19 mereka ribut menyalahkan pemerintah. Ketika pariwisata sudah pulih pemerintah dilupakan.
"Ketika susah ribut menyalahkan pemerintah, ketika dia hidup dia lupa pemerintah. Waktu kita menangani pandemi dengan keras ribut terus, tapi begitu pulih karena kita mengelola pandemi dengan baik dia tidak pernah ingat lagi sama pemerintah, sentil Koster.
Koster menjelaskan saat ini Pemerintah Provinsi Bali sedang membangun solidaritas dengan para pelaku usaha pariwisata di Bali. Yang nantinya ke depan harus saling bergotong royong, bukan saling menyalahkan.
"Karena itu sekarang saya sedang briefing supaya kita ini sama-sama hidup, survive semuanya. Saling membutuhkan tidak boleh saling menyalahkan," kata Koster.
Dia juga mengaku berterima kasih kepada Menteri Dalam Negara Republik Indonesia dan World Bank yang telah membuat kegiatan di Bali. Sehingga para delegasi bisa datang ke Bali.
"Terima kasih Bapak Ibu sudah hadir ke Bali. Kalau yang hadir ini satu orang satu kamar saya kira berarti sekitar 100 kamar lebih yang terisi di hotel ini," tandas Koster.(Rizal/*)