Suara Denpasar - Pulau Bali tak hanya terkenal dengan keindahan alam dan deretan pantainya yang menarik banyak wisatawan, namun juga budaya dan adat istiadat yang unik dan otentik menjadikan Bali adalah tempat yang selalu memikat hati siapa saja.
Ketika kita berkunjung ke Bali, pastinya sering mendengar kata-kata sapaan yang unik dan tak ada di tempat lain. Misalnya kata sapaan 'Bli' untuk menyebut pria yang lebih tua.
Tak hanya untuk kaum pria, dalam budaya masyarakat Bali, ada juga beberapa sapaan khas yang digunakan untuk menyebut kaum wanita.
Selain untuk mempererat persaudaraan, ada pula sapaan yang dapat menjadi tanda tingkat kasta yang disandang oleh seseorang tertentu.
Melansir dari Suara.com, inilah lima sapaan khas untuk para wanita yang digunakan oleh masyarakat Bali beserta penjelasannya.
1. Ninik
Sapaan ini ditujukan untuk menyebut nenek. Sapaan yang paling sering digunakan adalah ninik atau nini. Namun, beberapa daerah di Bali ada juga yang menyebut dengan panggilan lain seperti odah, niyang, atau dadong. Kata-kata tersebut memiliki arti yang serupa.
2. Jero
Jero tidak hanya menjadi sapaan yang berlaku pada kaum pria saja. Kata sapaan ini juga bisa digunakan ketika berhadapan dengan wanita Bali yang berasal dari kasta lebih tinggi. Ada pula panggilan Ratu Biang atau Dayu Biang yang ditujukan kepada keluarga dari kalangan pemuka agama.
Baca Juga: Persib Tahan Imbang Persija: Thomas Doll Kecewa Hingga Bongkar Situasi Ruang Ganti
3. Jegeg
Jegeg atau bisa juga diucapkan Geg ini digunakan jika kalian ingin menyapa remaja perempuan atau wanita yang lebih muda di Bali. Kata 'Jegeg' berarti cantik atau menunjukan sesuatu yang cantik rupawan.
4. Ida Ayu atau Dayu
Panggilan berupa Ida Ayu atau Dayu menjadi sapaan yang tepat ketika berhadapan dengan wanita yang berasal dari kasta Brahmana. Mereka biasanya dari kalangan pemuka agama yang memimpin upacara-upacara keagamaan, khususnya di agama Hindu.
5. Men
Kata sapaan ini untuk wanita yang berusia baya. Kata men juga kerap digunakan untuk kata ganti ibu, misalnya Ibu Nyoman menjadi Men Nyoman. Beberapa masyarakat Bali juga bisa mengganti dengan kata mek atau meme yang masih mempunyai arti yang senada.