Suara Denpasar - Lokal Pride menjadi isu hangat seputar Timnas Indonesia, konsep mengandalkan pemain dan SDM lokal untuk skuad garuda jadi perbincangan.
Konsep lokal pride kerap disandingkan kepada pelatih lokal seperti Indra Sjafri dan Bima Sakti, walau pun sebenarnya mereka tidak anti naturalisasi dilihat dari terbukanya kesempatan pemain naturalisasi di daftar susunan pemain sang pelatih.
Isu lokal pride kembali menjadi perbincangan usai Timnas Indonesia U-24 asuhan Indra Sjafri gagal meraih kemenangan kontra Korea Utara di Asian Games.
Kabar kekalahan itu diwartakan langsung oleh akun resmi PSSI, dikutip Suara Denpasar pada Senin, (25/9/2023).
"Timnas U-24 Indonesia harus mengakui keunggulan Korea Utara dengan skor akhir 1-0," tulis akun tersebut.
Kekalahan tim asuhan Indra Sjafri dinilai sebagai bentuk kegagalan lokal pride, warganet meragukan konsep tersebut.
"Sudah tahu kan kualitas lokal prett (lokal pride) kayak gimana?," tulis akun @aaiinul dalam kolom komentar.
Bahkan warganet pemilik akun tersebut mendesak Shin Tae Yong untuk ambil alih Timnas Indonesia U-17 yang akan menghadapi Piala Dunia U-17.
"Ganti Coach STY Timnas U-17 sebelum terlambat," lanjutnya.
Sebagaimana diketahui bahwa Timnas Indonesia U-17 saat ini tengah dipegang dan dilatih oleh Coach Bima Sakti.
"Beda level kalo coach lokal khusus buat di Asean saja, untuk Asia mending kasih STY saja, cuma bikin malu," tulis akun @fahriardiansyah.
"Kaya gitu masih percaya sama lokal preet? (lokal pride), passing gak bisa cuma longball sama crossing," ungkap akun @your_favorite_boy. (*/Dinda)