Depok.suara.com - Diabetes menjadi penyakit yang rentan dialami oleh banyak orang. Terlebih, memakan makanan manus sudah menjadi gaya hidup di Indonesia.
Diketahui, Diabetes kerap terjadi pada seseorang yang berusia di atas 45 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan anak-anak dan remaja juga mengalami hal yang sama, terutama diabetes tipe 2.
Menurut NHS, diabetes tipe 2 adalah kondisi umum yang menyebabkan kadar gula (glukosa) dalam darah menjadi terlalu tinggi. Dalam jangka panjang, penyakit ini dapat meningkatkan risiko terkena masalah serius pada mata, jantung, dan saraf.
Terdapat berbagai faktor tak terkendali yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2, seperti usia dan genetika. Bahkan, faktor gaya hidup juga berperan penting dalam meningatkan risiko diabetes.
Oleh sebab itu, salah satu cara untuk menurunkan risiko diabetes dapat dilakukan dengan mengatur gaya hidup, terutama pola makan.
Dilansir dari Eat This Not That, penelitian terbaru dari Universitas Tulane telah menemukan bahwa kebiasaan makan tertentu dapat menurunkan risiko diabetes. Kebiasaan makan tersebut adalah membatasi asupan karbohidrat harian.
Sebelumnya, peneliti di Stanford Medical Center juga mengatakan bahwa diet rendah karbohidrat dapat membantu menurunkan kadar gula darah.
Namun, temuan terbaru dari para peneliti di Tulane ini cukup unik karena menemukan bahwa diet rendah karbohidrat mungkin dapat membantu penderita pradiabetes dalam menurunkan kadar gula darah mereka.
Penelitian itu dilakukan pada 150 peserta yang dibagi menjadi dua kelompok: kelompok diet rendah karbohidrat dan kelompok dengan diet biasa. Setiap peserta berusia antara 40 dan 70 tahun, dan memiliki diabetes atau pradiabetes.
Baca Juga: Awal November 2022, IHSG Dibuka Menguat ke Level 7.126
Selain itu, mereka tidak boleh menjalani pengobatan apa pun untuk menurunkan gula darah mereka. Setelah enam bulan, kelompok yang mengonsumsi makanan rendah karbohidrat memiliki kadar hemoglobin A1c yang lebih rendah yang menjadi penanda umum untuk mengukur kadar gula darah.
Artinya, kebiasaan makan ini berpotensi dapat membantu mereka yang menderita diabetes dan pradiabetes mengelola glukosa darah mereka.
Selain itu, ditemukan juga bahwa kelompok rendah karbohidrat kehilangan lebih banyak berat serta memiliki kadar gula darah yang lebih rendah daripada kelompok diet biasa.
Para peserta penelitian dalam kelompok rendah karbohidrat diberi panduan tentang berapa banyak karbohidrat yang harus dikonsumsi setiap hari serta konseling perilaku selama periode enam bulan.
Tiga bulan pertama, peserta diinstruksikan untuk membatasi konsumsi karbohidrat mereka menjadi kurang dari 40 gram per hari. Kemudian di tiga bulan terakhir, mereka akan mengonsumsi karbohidrat sebanyak 60 gram.
Di akhir penelitian, kelompok rendah karbohidrat telah mengonsumsi total kalori lebih sedikit daripada kelompok lain serta lebih sedikit karbohidrat total, gula tambahan, dan minuman manis.
Kelompok diet rendah karbohidrat juga banyak mengonsumsi makanan berlemak sekitar 50 persen dari total asupan mereka. Namun, sebagian besar lemak yang dikonsumsi adalah tak jenuh tunggal dan tak jenuh ganda yang ditemukan dalam minyak zaitun, biji-bijian, alpukat, dan kacang-kacangan.
Kendati demikian, bagi penderita diabetes tipe 2 yang ingin mengubah pola makan, tetap disarankan untuk berkonsultasi kepada ahli gizi. Hal tersebut bertujuan untuk menyesuaikan pola diet untuk mengurangi risiko diabetes yang tepat bagi tubuh.