Depok.suara.com- Keberhasilan Soeharto sebagai presiden kedua Republik Indonesia ternyata tak lepas dari peran penting AH Nasution.
Hal tersebut tidak terlepas dari keberhasilan AH Nasution yang sukses melakukan lobi kepada Soekarno untuk menjadikan Soeharto sebagai panglima angkatan darat.
Padahal pada saat itu, Soeharto bukanlah sebagai kandidat. Namun, berkat lobi dari AH Nasution membuat ayah Bambang Trihatmodjo menempati jabatan tersebut.
Saat duduki jabatan tersebut, Soeharto dinilai sukses menjalani tugasnya itu dan mendapatkan apresiasi dari Soekarno.
Tak lama setelah menduduki jabatan tersebut, berbekal Supersemar, jenderal kelahiran Bantul, Jogja itu lantas membubarkan PKI.
Beberapa menteri kala itu disinyalir juga ditangkap, bahkan ketua MPR yang tidak ada kaitannya dengan PKI juga ikut diamankan.
Karena kekosongan di ketua MPRS, akhirnya fraksi memilih AH Nasution untuk menempati jabatan tersebut.
"Sidang umum MPRS akhirnya mulai digelar, sidang majelis ini menetapkan Supersemar sebagai TAP MPRS," tutur kanal YouTube Indonesia Insider yang dikutip pada Selasa (26/9/2023.
Diketahui, kekuasaan Soekarno dicabut melalui TAP MPRS, bahkan laporan pertanggung jawabannya ditolak. (*)
Baca Juga: 3 Rekomendasi Film Korea Ryu Jun Yeol, Aktor yang Baru Berulang Tahun ke-37
Soeharto Akhirnya Resmi Jadi Presiden Republik Indonesia
![Soeharto, Presiden kedua Republik Indonesia [Instagram/ @polisi_indonesia]](https://media.suara.com/suara-partners/depok/thumbs/1200x675/2023/09/26/1-jenderal-soeharto.jpg)
Setahun setelah jabatan proklamator dicabut, Soeharto akhirnya resmi menjadi presiden kedua Republik Indonesia. Bahkan AH Nasution memimpin sidang pelantikan suami Ibu Tien itu.
“Meskipun bantuan dari Nasution membantunya meraih kekuasaan, tapi Soeharto melihat Nasution berpotensi menjadi presiden menggantikan dirinya,” jelasnya.
Namun, pelantikan Soeharto sebagai Presiden menimbulkan banyak kabar miring. Hal itu diduga karena Soeharto menyimpan ketakutan kalau posisinya digantikan oleh AH Nasution dan melihat peluang yang dimiliki oleh ayah Ade Irma Suryani Nasution itu, akhirnya ayah Bambang Trihatmodjo itu menyingkirkan Nasution dengan melarangnya bertuhas di militer.
Nasution pun diberhentikan dari militer pada usia 53 tahun, yang terpantau dua tahun lebih cepat dari yang seharusnya.
Tak hanya itu saja, nasib malang lainnya yang menimpa Nasution adalah ketika jabatannya sebagai ketua MPR digantikan oleh orang lain.
"Sejak saat itu semua karier politiknya selesai, ia pun mulai dikucilkan oleh Soeharto dan orde barunya,” tandasnya. (*)