Tak terima anaknya ditegur karena merokok di sekolahan, Zaharman (58), guru sebuah SMA di Bengkulu dianiaya oleh salah satu wali murid. Mirisnya, mata kanan guru itu hancur karena kena ketapel oleh orang tua murid tersebut.
Berita soal guru yang diketapel oleh orang tua murid viral setelah video Zaharman saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit. Salah satunya diunggah akun Instagram @majeliskopi08, Kamis (3/8).
Berdasar narasi video itu, mata bagian kanan Zaharman itu terpaksa harus diangkat karena mengalami kerusakan akibat terkena ketapel.
"Bola mata kanannya rusak dan harus diangkat," demikian keterangan orang yang merekam kondisi Zaharman di rumah sakit.
Mengutip Suara.com, jika peristiwa penganiayaan itu terjadi setelah sang guru memergoki para siswa sedang merokok di belakang sekolah pada Selasa (1/8) lalu. Saat itu, Zaharman diduga marah hingga menendang siswa-siswanya sebagai bentuk sanksi.
PD (16), siswa yang ditendang itu akhirnya mengadu ke orang tuanya, AJ (45).
"Hingga terjadilah aksi penganiayaan ke Zaharman. Akibat diketapel bola mata kanan Zaharman hancur dan harus diangkat," tutur pemilik video.
Tak cuma luka parah di bagian matanya, Zaharman dikabarkan turut dilaporkan oleh AJ karena diduga telah melakukan kekerasan kepada anaknya. Pasalnya, sang anak mengaku tak ikut-ikutan merokok dan kebetulan hanya nongkrong ketika teman-temannya merokok di belakang sekolah.
Kasat Reskrim Polres Rejang Lebong, Iptu Denyfita Mochtar mengatakan jika siswa berisnisial PD dan sejumlah temannya terlambat masuk ke sekolahnya hingga akhirnya mereka duduk di area kantin.
Kemudian ada salah satu temannya yang merokok.
Hingga Zaharman kemudian datang dan langsung memarahi mereka, terutama teman PD yang merokok.
PD saat itu mengaku ingin berlari karena takut, tetapi malah ditendang sampai mengenai wajahnya.
"Guru yang Matanya Diketapel Orang Tua Murid Dilaporkan Balik ke Polisi atas Kasus Kekerasan pada Siswa," tulis akun Instagram @net2netnews.
Peristiwa ini sontak membuat banyak warganet merasa prihatin. Tidak sedikit yang kemudian membandingkan dengan masa sekolah mereka dahulu, yakni cenderung menerima saja bila guru sampai bertindak sangat keras demi mendisiplinkan murid.
(Sumber: Suara.com)