Suara.com - Kehebohan setelah beredarnya Epstein Files menimbukan spekulasi baru kalau ini hanya pengalihan isu.
Salah satu yang mengungkapkan hal tersebut adalah pegiat media sosial, Alek Gerung.
Melalui akun Instagramnya, dia blak-blakan memunculkan rumor bahwa Epstein Files adalah pengalihan isu meski menggunakan tanda tanya.
"Peringatan: File Epstein sebenarnya pengalihan isu?" tulisnya pada postingannya, Rabu, 4 Februari 2026.
Pernyataannya itu bukan tanpa alasan, dia punya penjelasannya bahkan dugaan atas keanehan-keanehan dari kemunculan Epstein Files ini.
Di awal, dia menganggap ada yang aneh saat file ini sengaja dibuka kembali padahal kasus Epstein sudah sejak lama ada.
Ini yang membuat dia panasaran mengapa file itu baru dibuka sekarang.
Meski dia menyebut kalau kasus Epstein ini memang harus kembali diusut karena kejahatan yang dilakukan dan korbannya nyata adanya.
Hanya saja dia menyorotinya dari kacamata politik global.
Baca Juga: Link Download Epstein Files PDF yang Diduga Berjumlah 3 Juta Halaman
"Tapi politik perhatian itu nyata. Dunia politik, yang paling berharga bukan uang tapi perhatian publik," kata Alek.
Ada dugaan saat semua orang fokus pada satu skandal, maka elit akan melakukan hal-hal seperti kebijakan ekonomi akan tetap berjalan, regulasi teknis disahkan dan keputusan struktural lolos tanpa debat luas.
Kemudian, dia menuliskan ada dua kejanggalan dari analisis kemunculan Epstein Files.
Kejanggalan pertama kasus ini baru lagi setelah sekian lama dan sudah pernah dibahas sebelumnya.
Hanya saja perbedaannya dokumen yang terkesan rahasia itu dbuka ke publik secara masif.
Kejanggalan kedua soal penyebarannya. Ini karena yang memberikan bukan hanya media alternatif melainkan juga media arus utama yang kebanyakan pemiliknya para elite global.
"Kenapa mereka buka celah?" tulisnya.
Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah para elite global sengaja membuka aib sendiri ke publik.
"Atau memang bukan soal reputasi sama sekali?" katanya.
Bagi Alek, sekarang yang harus dilakukan publik bukan fokus ke individu melainkan pola dan sistem yang bikin itu semua bisa terjadi berulang lagi.
"Terbitkan skandal, emosi publik tersedot, isu yang terjadi dibahas, hilang dari radar. Bukan karena selesai tapi karena tak lagi dibahas," jelasnya membongkar pola klasik pengalihan isu.
Dia kemudian menyebut ada satu isu geopoliti besar yakni manuver dan wawancara Donald Trump soal Greenland.
Gara-gara Epstein Files, isu itu meredup seketika karena publik sudah tersulut emosinya karena hal tersebut,
Saat publik emosi, kebijakan pemerintah tetap berjalan dan jauh dari sorotan.
"Dalam politik global, keputusan berdampak biasanya bergerak saat kita lengah. Ini berlaku untuk isu politik di Indonesia juga," tambahnya.
Hingga pada sebuah kesimpulan dari pembahasannya itu yakni ada isu besar yang disembunyikan.
"Isu besar sering dipakai untuk menutupi isu yang lebih besar. Mereka paham psikologi kita," katanya.
Dia berharap publik tetap waspada dan tidak berlarut-larut dalam kemarahan.
"Otak manusia sulit marah dan waspada sekaligus. Kalau otak dipenuhi emosi, kewaspadaan turun. Stay awake people," pungkasnya.
Bagaimana menurut kalian?
Kontributor : Tinwarotul Fatonah