Suara.com - Di 2020 ini, grup musik RAN beberapa kali diterpa duka. Bahkan kabar tersebut bertubi-tubi datang ke kelompok musik yang dibentuk pada 2006.
Pada Sabtu (3/10/2020), Anindyo Baskoro atau dikenal Nino RAN kehilangan ayah kandungnya, Agus Setyo Wicaksono.
Belum satu pekan berlalu, giliran Rayi RAN kehilangan ibu kandungnya, Rahayu Joesmintarti, Kamis (8/10/2020) malam.
Walau banyak orang yang menganggap tahun duka, Rayi RAN tak sependapat dengan anggapan tersebut.
![Nino RAN di pemakaman ayahnya [Suara.com/Yuliani]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/10/04/67872-nino-ran-di-pemakaman-ayahnya-suaracomyuliani.jpg)
"2020 bisa dibilang tahun duka, saya kurang suka nganggep tahun duka. Tapi mungkin tahun yang pentingnya," ujar Rayi RAN ditemui usai pemakaman sang ibu di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2020).
Bagi, lelaki 33 tahun itu, sosok ayah Nino dan ibu kandungnya merupakan pahlawan untuk grup musik RAN.
Ada campur tangan mereka sehingga grup musik beraliran pop itu bisa eksis di industri musik Tanah Air.
"Om Agung Ayah Nino dan ibu saya, bu Yayu, berperan besar sekali untuk terbentuknya RAN. Yang menciptakan nama RAN itu ibu saya dan om Agung adalah yang membawa demo kami ke label dan produser kami tanpa sepengetahuan kami," tutur Rayi.
Walau kehilangan sosok orangtua, Rayi RAN kembali menegaskan tahun ini bukan merupakan tahun duka untuk kelompok musiknya.
Momen duka yang terjadi di tahun ini dijadikan sebagai pengingat untuk tetap bersyukur.
"Jadi kalau bukan karena dua orangtua kami yang berjasa besar ini, kami nggak akan kejadian. Dibilang berduka iya, tapi ini tahun yang membuat kami lagi-lagi teringat untuk bersyukur dan menghargai tiap detik dalam hidup ini," tutur Rayi RAN.