Suara.com - Isu dugaan black campaign yang menyeret nama MD Pictures tengah memanaskan percakapan publik jelang persaingan film Lebaran 2026 yang semakin kompetitif.
Perbincangan ini bermula ketika akun Instagram resmi film animasi Na Willa dibanjiri komentar promosi masif terkait film Danur: The Last Chapter.
Komentar tersebut dinilai tidak organik karena muncul serentak, berulang, dan terkesan menyerang lapak promosi film kompetitor yang akan tayang bersamaan.
Kondisi ini memicu tudingan warganet bahwa pihak tertentu sengaja menggunakan jasa buzzer untuk mempromosikan Danur dengan cara tidak etis.
Menanggapi situasi tersebut, Lele Laila selaku penulis Danur: The Last Chapter akhirnya angkat bicara melalui unggahan Instagram Story pribadinya.
Dalam pernyataannya, Lele Laila secara jujur mengakui rasa takut dan trauma ketika mengetahui film Danur akan kembali tayang pada momentum Lebaran.
"Waktu saya tahu film Danur tayang Lebaran, saya takut, entah sejak kapan persaingan film menjadi seperti Pilpres," tulis Lele Laila pada Kamis, 22 Januari 2026.
Dia menyoroti fenomena black campaign, buzzer, dan komentar kebencian yang menurutnya kini dianggap wajar dalam promosi industri film.
Baca Juga: Sutradara Danur Klarifikasi Dugaan Sewa Buzzer untuk Serang Film Na Willa
Lele Laila juga mengungkap kekhawatirannya akan terulangnya pengalaman pahit Lebaran tahun lalu yang meninggalkan luka mendalam secara personal.
"Saya takut diserang lagi, dicaci maki, bahkan disuruh mati lagi, sementara orang yang dulu mendampingi saya kini sudah tiada," ungkapnya emosional.
Lele Laila pun mengajak seluruh pelaku industri film, sinefil, dan akun perfilman untuk tidak melanggengkan praktik saling menjatuhkan.
Dia mengibaratkan konflik promosi ini seperti api kecil yang akan membesar bila terus disiram bahan bakar berupa kebencian.
Sebelumnya, sutradara Danur: The Last Chapter, Awi Suryadi, telah lebih dulu mengklarifikasi isu tersebut secara terbuka pada 21 Januari 2026.