Suara.com - Sosok Pak Ribut Santoso, guru honorer asal Lumajang, Jawa Timur, kembali mencuri perhatian publik.
Hal itu terjadi setelah dia secara transparan membagikan rincian gajinya selama lebih dari dua dekade mengabdi di dunia pendidikan.
Pria yang dikenal melalui konten-konten jenaka bersama muridnya, April, ini mengungkap kenyataan pahit mengenai kesejahteraan guru honorer di Indonesia yang masih jauh dari kata layak.
Berdasarkan data yang dibagikannya, perjuangan finansial Pak Ribut dimulai pada tahun 2003 dengan gaji hanya sebesar Rp25.000 per bulan.
Angka yang sangat minim ini bertahan selama tiga tahun hingga 2005, sebelum akhirnya naik perlahan menjadi Rp35.000 pada 2006,.
Kenaikan gaji yang diterima Ribut tergolong sangat lambat, butuh waktu hingga tahun 2017 bagi gajinya untuk menyentuh angka Rp100.000.
Kenaikan signifikan baru dirasakan pada tahun 2019, di mana gajinya melonjak menjadi Rp1.025.000 setelah dia mengabdi selama 16 tahun.
Hingga tahun 2024, gaji yang diterimanya sebagai guru honorer berada di angka Rp1.050.000.
Baca Juga: Potret Pak Ribut, Guru Honorer Viral yang Gak Percaya Sapi Makan Martabak
Meski nominal tersebut terlihat miris bagi banyak orang, Ribut memiliki pandangan yang sangat mendalam mengenai profesinya.
Bagi pria yang mengajar di SDN Paguan 1 Pasrujambe ini, menjadi guru bukan sekadar mencari materi.
Ketika jadi bintang tamu di podcast TS Media yang dipandu Luna Maya dan Marianne, Pak Ribut mengungkapkan filosofi hidupnya.
“Gini, karena buat saya pribadi seorang guru itu bukanlah suatu pekerjaan. Dulu itu adalah suatu pengabdian, oke jadi saya bener- bener Ikhlas untuk mengabdi, untuk mencerdaskan anak-anak didik saya, anak-anak didik bangsa," ucapnya.
Dia juga menambahkan status sebagai pegawai negeri (PNS) atau honorer bukanlah hal utama baginya.