Fara, sebagai sosok yang ceria dan peduli terhadap kekompakan tim, merasa memiliki tanggung jawab untuk merangkul semua anggota, termasuk Reyhan yang sangat tertutup.
Karena pelaku dianggap sangat sulit berinteraksi dengan rekan satu tim lainnya, Fara berinisiatif untuk lebih sering mengajaknya mengobrol.
Langkah ini dilakukan murni agar program kerja KKN dapat berjalan secara profesional, kompak, dan membuahkan hasil yang baik bagi masyarakat setempat.
Namun, keramahan dan perhatian yang diberikan Fara justru ditangkap secara berbeda oleh pelaku.
Reyhan diduga mengalami perasaan yang terlalu mendalam atau "baper" karena merasa jarang mendapatkan perhatian serupa dari lawan jenis sebelumnya.
Seiring berjalannya waktu, kedekatan mereka pun semakin terlihat menonjol di mata rekan-rekan mereka.
Sayangnya, kenyamanan yang dirasakan pelaku perlahan berubah menjadi obsesi yang tidak sehat.
Setelah masa KKN berakhir, perilaku Reyhan menjadi semakin mengkhawatirkan karena ia mulai mengganggu ruang pribadi Fara.
Fara yang merasa risih dan sudah memiliki kekasih akhirnya bersikap tegas dengan meminta Reyhan untuk menjauh.
Apalagi Fara disebut sudah memiliki pacar selama ini.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah