Suara.com - Muncul rumor institusi pengelola investasi Indonesia, Danantara, dengan studio film independen ternama asal Amerika Serikat, A24.
Kabar burung ini muncul pertama kali lewat akun X @xyzid6292 pada 22 Maret 2026.
"Info A1 Danantara nyimpen duit A24 ratusan Miliar. Hehehe playbook 1MBD much?" tulis akun itu.
Akun tersebut mengungkapkan jika founder A24 sering ke Jakarta.
Ada beberapa publik figur yang ikut terseret dalam investasi ini.
"Pantauin aja kegiatan foundernya A24 yang lagi bolak balik Jakarta. Beberapa publik figur terlibat, termasuk tentu saja RA dan si cantik RS. Katanya ini project BMnya bapak PS demi promosi industri kreatif Indo," ungkap akun itu.
Danantara Indonesia akhirnya memberikan penjelasan resmi mengenai posisi mereka.
Meski tidak secara spesifik membenarkan atau membantah rincian detail investasi pada A24, Tim Komunikasi Danantara menekankan setiap langkah yang mereka ambil harus sesuai dengan mandat utama perusahaan.
"Danantara Indonesia berpegang teguh terhadap mandatnya untuk menghadirkan imbal hasil yang optimal serta memastikan setiap investasi membawa nilai strategis bagi pembangunan keberlanjutan Indonesia," demikian pernyataan resmi Danantara.
Terlapas dari rumor itu, siapa sebenarnya sosok di balik rumah produksi yang kerap melahirkan film-film "ajaib" ini.
Para Pendiri dan Filosofi Nama A24
A24 Films LLC didirikan pada tahun 2012 oleh tiga veteran industri film: Daniel Katz, David Fenkel, dan John Hodges.
Nama studio ini memiliki latar belakang yang cukup unik dan personal bagi para pendirinya.
Katz mendapatkan inspirasi nama tersebut saat ia sedang berkendara di jalan tol Autostrada A24 di Italia, yang menghubungkan Roma dengan Laut Adriatik.
Jalan tol tersebut tidak hanya menjadi saksi bisu saat Katz memikirkan pendirian perusahaan, tetapi juga dikenal sebagai lokasi syuting bersejarah dalam sinema klasik Italia.
Pada awalnya, A24 beroperasi murni sebagai distributor film independen.
Film pertama yang mereka distribusikan adalah A Glimpse Inside the Mind of Charles Swan III karya Roman Coppola pada Februari 2013.
Sejak awal, A24 memiliki reputasi dalam memilih film-film dengan cerita yang "aneh" namun tetap memiliki kualitas seni yang tinggi.
Film tersebut di antaranya Swiss Army Man yang tetap mereka ambil meski awalnya mendapat respons membingungkan di Sundance Film Festival.
Transformasi Menjadi Raksasa Oscar
Titik balik terbesar A24 terjadi pada tahun 2016 ketika mereka mulai memproduksi film secara internal (in-house production).
Proyek pertama mereka adalah Moonlight, sebuah drama yang akhirnya memenangkan kategori Best Picture di Academy Awards 2016.
Kesuksesan ini mengubah status A24 dari sekadar distributor menjadi studio produksi penuh yang disegani di Hollywood.
A24 dikenal luas karena keberaniannya mengeksplorasi genre, terutama horor psikologis yang minim jump scare namun penuh teror mental, seperti Hereditary (2018) dan Midsommar (2019).
Hingga saat ini, beberapa film dengan pendapatan tertinggi mereka antara lain Everything Everywhere All at Once yang meraup US$77 juta di AS, diikuti oleh Civil War (2024), dan Uncut Gems (2019).
Pada musim Oscar 2023, A24 mencetak sejarah dengan meraih 18 nominasi dan 9 kemenangan, di mana Everything Everywhere All at Once menyapu bersih tujuh penghargaan utama.
Tidak hanya film layar lebar, A24 juga sukses di dunia televisi melalui serial populer seperti Euphoria di HBO dan Ramy di Hulu.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah