- Rapi Films dan WeTV Indonesia memulai produksi serial 10 episode berjudul Tante Sonya di Jakarta pada Maret 2026.
- Serial ini merupakan reboot dari karya lawas yang mengangkat dinamika hubungan beda usia antara Raihaanun dan Maxime Bouttier.
- Proyek drama romantis ini juga menandai kembalinya aktor Hamish Daud ke dunia akting setelah lima tahun sempat vakum.
Suara.com - Rumah produksi Rapi Films bekerja sama dengan WeTV Indonesia resmi memulai produksi serial orisinal terbaru berjudul Tante Sonya.
Proyek ini menandai reboot dari Intellectual Property (IP) legendaris era 90-an, Catatan Harian Tante Sonya, dengan pendekatan cerita yang lebih modern dan relevan bagi penonton masa kini.
Serial drama romantis sepanjang 10 episode ini menyoroti dinamika hubungan age-gap atau perbedaan usia, yang mempertemukan Raihaanun dengan Maxime Bouttier.
Fokus ceritanya terletak pada karakter Sonya (Raihaanun), seorang perempuan pekerja berusia 42 tahun yang merasa insecure soal cinta karena faktor usia, hingga akhirnya bertemu dengan Ben, yang mengubah perspektif hidupnya.
Maxime Bouttier yang didapuk memerankan karakter Ben, mengaku sangat tertarik dengan proyek ini karena menawarkan sudut pandang yang berbeda.
![Raihaanun di acara perkenalan series Tante Sonya di Jakarta, Rabu (8/4/2026). [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/08/73893-raihaanun-di-series-tante-sonya.jpg)
Jika biasanya drama romansa menonjolkan laki-laki lebih tua, Tante Sonya justru memperlihatkan bagaimana pria muda memperjuangkan cintanya kepada perempuan paruh baya.
Saat ditanya mengenai pendalaman karakter Ben, aktor 33 tahun ini tidak menampik bahwa dia merasa ada keterikatan pribadi dengan peran tersebut.
Hal ini merujuk pada kehidupan aslinya. Sang istri, Luna Maya, juga memiliki jarak usia yang jauh darinya, 10 tahun.
"Untuk masuk ke karakter Ben, mungkin... pengalaman diri sendiri," ujar Maxime Bouttier seraya tertawa dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Cikini, Jakarta Pusat pada Rabu, 8 Maret 2026.
"Tapi seperti yang dibilang tadi, ini kan angle yang berbeda ya. Perspektifnya itu lebih dari Ben melihat Sonya daripada sebaliknya," kata Maxime menyambung.
"Itu yang bikin aku tertarik karena sesuatu yang baru. Walaupun ini reboot, tapi lebih relatable sekarang. Di luar aku, lumayan banyak statistik (hubungan) yang seperti itu sekarang."
![Rumah Produksi Rapi Film memperkenalkan series terbaru garapannya berjudul Tante Sonya di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026). Series ini dibintangi Maxime Bouttier, Raihaanun, dan Hamish Daud. [Tiara Rosana/Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/08/21004-tante-sonya.jpg)
Bagi aktor berdarah Prancis ini, daya tarik utama serial ini adalah keberaniannya menampilkan sisi kerentanan seorang laki-laki muda di hadapan perempuan yang lebih dewasa.
"Aku tertarik untuk kasih lihat penonton angle yang berbeda daripada biasanya lewat series," ucap bintang film Hollywood Ticket to Paradise ini.
Produser Rapi Films, Sunil Samtani, menegaskan bahwa proyek ini merupakan reboot, bukan remake total dari versi Ayu Azhari di masa lalu.
Tim produksi hanya mengambil benang merah cerita untuk kemudian dikembangkan menjadi konflik yang lebih sesuai dengan tren masa kini.
"Sebenarnya ini IP lama kami, tapi kami bukan remake, lebih ke reboot. Struktur ceritanya benar-benar kami bikin lebih up-to-date, lebih modern, dan konflik-konfliknya lebih seperti yang lagi tren sekarang," imbuh Sunil.
Hal senada disampaikan oleh Executive Producer & Country Head WeTV Indonesia, Febriamy Hutapea.
Menurutnya, genre age gap memiliki performa yang sangat kuat di platform OTT.
Febri ingin menunjukkan bahwa perempuan paruh baya tetap layak dicintai dan diperjuangkan.
"Perempuan yang sudah berusia biasanya merasa insecure dan merasa tidak layak dicintai karena usia atau trauma masa lalu. Di series ini, penonton bisa melihat bahwa perempuan paruh baya boleh loh dicintai lagi dan diperjuangkan oleh pria yang lebih muda," kata Febriamy.
Membangun chemistry untuk adegan romantis yang intens menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain.
Namun, Raihaanun mengaku proses tersebut berjalan sangat natural karena dia dan Maxime sudah berteman cukup lama di kehidupan nyata.
Keterbukaan Maxime dalam berakting juga membantu keduanya untuk lebih dekat dan memahami masing-masing.
"Keterbukaan Maxime itu membuat saya juga mudah untuk membangun chemistry itu sendiri. Karena Maxime pun sangat terbuka sekali akan adegan-adegan ataupun scene yang memang harus didiskusikan gitu," ucap Raihaanun.
Raihaanun juga menambahkan bahwa karakter Sonya yang dia perankan memiliki kompleksitas emosi yang tinggi, termasuk adegan-adegan fisik yang menantang.
"Iya, ada (adegan) dijambak-jambak," selorohnya singkat.
Selain pasangan utama, serial ini juga dibintangi oleh Hamish Daud yang berperan sebagai Martin.
Proyek ini merupakan kemunculan perdana Hamish dalam format serial sekaligus menandai kembalinya mantan suami Raisa ini ke industri akting setelah lima tahun vakum.
"Saya sempat di luar perfilman sekitar lima tahun ya. I'm excited untuk balik lagi. Ini pertama kalinya saya bermain series dan prosesnya sangat menyenangkan, karena dikerjakan bersama teman-teman lama," tutur Hamish.
Dalam memerankan Martin, Hamish mengaku diminta tim produksi untuk menjaga penampilan fisiknya agar tetap stabil.
"Disarankan jangan ada perubahan fisik karena sudah dibeli wardrobe-nya. Kemarin mau olahraga saja tidak dikasih sama tim stylist. Yang penting fresh dan sehat saja," ucapnya.
Sutradara Surya Ardy Octaviand menjadwalkan proses syuting akan berlangsung selama kurang lebih 50 hari.
Sebelum turun ke lapangan, para pemain menjalani proses reading intensif untuk mendalami skenario yang lebih berani.
"Banyak PR nih buat kita. Kita akan mulai duduk bersama semua cast untuk reading dan diskusi dialog. Pendalamannya masih di situ dulu sebelum mulai syuting beberapa hari lagi," imbuh Maxime Bouttier.