- Arsitektur Sawarga Courtyard SUMMABA yang megah ala Eropa sukses menyihir penonton dan menyatu sempurna dengan nuansa musik jazz sejak pandangan pertama.
- Festival tahun ini berhasil naik kelas ke panggung internasional melalui reuni eksklusif serta kolaborasi apik lintas negara.
- Hajatan ini tidak sekadar menggelar konser, tetapi juga menghidupkan ekosistem musik secara utuh lewat program masterclass, pasar komunitas, dan ruang regenerasi.
Suara.com - Matamu melemahkanku.
Saat pertama kali kulihatmu.
Dan jujur, ku tak pernah merasa.
Ku tak pernah merasa begini.
Bukan..bukan. Saya, Yazir Farouk, seorang penikmat musik awam yang kebetulan jadi Redaktur Musik Suara.com, bukan mau membahas lagu Dari Mata kepunyaan Jaz, penyanyi populer asal Brunei Darussalam. Bait pertama lagu yang cukup familiar di Indonesia itu tiba-tiba saja ada di kepala, begitu saya memasuki Sawarga Courtyard, panggung utama Gedebage Jazz Festival (GJF) International 2026 di Summarecon Mall Bandung (SUMMABA).
Ceritanya begini. Berjalan pelan masuk ke area Sawarga Courtyard, saya disambut udara sejuk khas Bandung dan visual kemegahan dinding kokoh batu bata merah yang mengelilingi venue. Spot ini berada di tengah mal, menjadi ruang terbuka yang salah satunya difungsikan sebagai tempat menggelar konser musik.
Jika memakai angle kamera Point of View (POV), saya merasa seperti Kaisar Commodus ketika adegan memasuki arena Koloseum di film The Gladiator untuk bertarung melawan mantan Jenderal Maximus Decimus Meridius. Yups, arsitektur area seluas 3.600 m² itu sekilas mirip bangunan bersejarah yang sampai kini masih berdiri tegak di Roma, Italia.

Gaya arsitektur tempat ruang terbuka hijau tersebut mengambil konsep taman tropis ala eropa. Pengunjung mal - dalam tulisan ini saya sebut penonton Gedebage Jazz Festival International - langsung jatuh cinta begitu masuk ke sana, seperti ruh dalam bait pertama Dari Mata yang tadi saya singgung di awal.
Jangan-jangan, gaya bangunan Sawarga Courtyard dipilih sedemikian rupa ala-ala Eropa untuk menyesuaikan nuansa hajat tahunan GJF. Jazz dan Eropa memang tak bisa dipisahkan karena melihat musik itu berakar dari benua biru dan Afrika. Ya meskipun akhirnya musik jazz dipatenkan lahir dari rahim Negeri Abang Sam.
Pertanyaannya, apakah sejak dibangun sampai sekarang, SUMMABA pernah menghelat acara musik dengan genre yang bukan jazz? Kalau soal itu, kita bahas di lain waktu saja.
Kembali ke topik tulisan ini, GJF 2026 sepertinya bisa dibilang naik kelas, berevolusi ke panggung dunia karena menghadirkan sederet musisi jazz mancanegara seperti Takahiro Miyazaki (Jepang), Andrea Cui (Singapura), Julian Chan (Malaysia), dan Jazzbois (Hungaria).
Mereka juga tak sekadar terbang ke Indonesia, manggung, lalu pulang. Ada misi lain, yakni pertukaran kreativitas dan budaya dengan musisi kebanggaan Indonesia lewat kolaborasi apik di panggung GJF International 2026.
Bayangkan, suara halus, hangat, dan ekspresif yang keluar dari saksofon Takahiro Miyazaki berdialog dengan frekuensi rendah bass Barry Likumahuwa, lengkingan gitar Andre Dinuth dan gebukan drum Echa Soemantri. FYI, Barry, Andre dan Echa tergabung dalam supergroup TRIO B.A.E.
Agak menyesal, saya tak sempat melihat penampilan mereka di hari Minggu, 28 Juni 2026 karena harus pulang ke Jakarta.
Tapi sehari sebelumnya, saya berkesempatan melihat kolaborasi apik lintas negara yang lain, yaitu Sydney Reunion & Indra Lesmana. Lagi-lagi, ini adalah kolaborasi eksklusif, di mana Indra dipertemukan kembali dengan sahabat musikalnya dari Australia. Untuk kali pertama, mereka tampil bareng di Indonesia.

Sydney Reunion & Indra Lesmana diberi jatah tampil saat matahari telah terbenam. Saya dan mungkin juga penonton lain ikut merasakan momen hangat reuni Indra dan tiga sahabatnya di masa sekolah, Dale Barlow (Saksofon/Flute), Steve Hunter (Bass), dan Andrew "Andy" Gander (Drum/Perkusi) di atas panggung.
Dari atas panggung, Indra sempat berkelakar. Ia berujar kalau penonton mungkin kurang bisa menikmati musik mereka, karena terasa - setidaknya menurut Indra - tak terlalu semangat ketika disapa di awal pertunjukan.
Sebagai awam di musik jazz, saya berani bilang kalau jazz fusion yang diusung Indra dkk memang salah satu mazhab jazz yang rumit.