- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menuai kritik di media sosial akibat menyinggung kondisi keluarga mahasiswa baru Unpad bernama Keisha.
- Dalam video viral tersebut, Dedi melontarkan pertanyaan tajam mengenai ayah Keisha yang dinilai warganet tidak menunjukkan empati kepada korban.
- Keisha merupakan mahasiswi Program Studi Administrasi Pemerintahan Unpad yang berjuang menghadapi keterbatasan ekonomi dan persoalan keluarga.
Suara.com - Potongan video percakapan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan mahasiswa baru Universitas Padjadjaran (Unpad), Keisha, menuai kritik di media sosial.
Sorotan muncul setelah Dedi menyinggung kondisi keluarga Keisha dengan pertanyaan mengenai ayahnya yang disebut tidak bertanggung jawab.
Dalam sesi tersebut, Keisha menceritakan bahwa dirinya tidak mendapat dukungan yang cukup dari sang ayah, termasuk ketika membutuhkan bantuan finansial.
Ia juga mengungkapkan perjuangannya menjalani kehidupan bersama ibu dan dua adiknya setelah sebelumnya tinggal bersama nenek yang telah meninggal dunia.
Percakapan kemudian menjadi viral ketika Dedi melontarkan pertanyaan yang dinilai sejumlah warganet terlalu tajam.
“Kenapa kamu dilahirkan dari bapak yang tidak bertanggung jawab, pilih yang bertanggung jawab dong,” kata Dedi dalam video tersebut.
Keisha menjawab singkat bahwa dirinya tidak mungkin memilih keadaan tersebut.
“Ya enggak tahu, kan enggak bisa milih nasib,” ujar Keisha.
Jawaban itulah yang kemudian banyak dikutip warganet.
Sebagian pengguna media sosial menilai pernyataan tersebut kurang empati karena Keisha sedang menceritakan persoalan keluarga yang berada di luar kendalinya.
Kritik terhadap Dedi tidak hanya diarahkan pada isi pertanyaan, tetapi juga cara penyampaiannya.
Apalagi, percakapan tersebut berlangsung di hadapan mahasiswa baru dan kemudian tersebar luas melalui media sosial.
“Pertanyaan terbodoh adalah menanyakan kepada seseorang mengenai hal yang tidak bisa dikontrolnya sama sekali,” tulis seorang warganet.
Komentar lain menilai seorang anak tidak seharusnya dibebani pertanyaan mengenai pilihan orang tuanya.
“Anak juga gak minta dilahirkan,” tulis pengguna lainnya.
Ada pula warganet yang secara langsung meminta Dedi lebih berhati-hati ketika membicarakan persoalan pribadi seseorang di ruang publik.
“Pertanyaan macam apa ini? Mungkin bagi Anda ini hal sepele, tapi ini bisa menjadi luka juga rasa malu seumur hidup,” tulis salah satu akun.
Meski demikian, tidak semua respons publik bernada negatif.
Sebagian warganet meminta agar video tersebut dilihat secara utuh sebelum memberikan penilaian karena potongan video dinilai berpotensi menghilangkan konteks percakapan.
Ada pula yang menilai ucapan Dedi mungkin dimaksudkan sebagai sindiran kepada para orang tua agar tidak mengabaikan tanggung jawab terhadap anak.
Namun, cara penyampaiannya tetap dinilai menjadi persoalan tersendiri.
Di balik kontroversi tersebut, Keisha diketahui memiliki kisah perjuangan yang tidak sederhana.
Ia berhasil diterima di Unpad melalui jalur prestasi akademik meski mengaku menghadapi persoalan keluarga dan keterbatasan ekonomi.
Keisha memilih Program Studi Administrasi Pemerintahan.
Ketika ditanya mengapa tidak mengambil kedokteran, ia menjelaskan bahwa pilihan tersebut terkendala biaya dan latar belakang pendidikan.
“Aku kan enggak ada biayanya, Pak. Aku kan dari IPS. Bukan dari IPA,” jawab Keisha.
Ia juga mengungkapkan alasan ingin melanjutkan pendidikan adalah untuk membuktikan bahwa dirinya mampu bangkit dari perlakuan buruk yang pernah diterimanya.
“Aku pengin ngebuktiin ke saudara-saudara yang udah zolim ke aku,” katanya.