Film G30S/PKI: Propaganda Orde Baru atau Fakta Sejarah?

M Nurhadi

Rabu, 30 September 2026 | 07:38 WIB
Film G30S/PKI: Propaganda Orde Baru atau Fakta Sejarah?
Sejumlah warga menonton film penumpasan pengkhianatan G30S/PKI di markas Kodim 1304 Gorontalo, Gorontalo. [Antara]
baca 10 detik
  • Pemerintah Orde Baru memproduksi film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI pada tahun 1984 untuk menanamkan propaganda kebencian terhadap PKI.
  • Rezim Soeharto mewajibkan penayangan film berdurasi hampir empat jam tersebut setiap tanggal 30 September hingga tahun 1998.
  • Pemerintahan B.J. Habibie mencabut kewajiban menonton film tersebut karena banyak mengandung distorsi sejarah serta adegan kekerasan.

Suara.com - 30 September 1965 selalu memiliki ikatan kuat dengan sejarah kelam yang melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Memori kolektif masyarakat Indonesia terhadap tragedi ini secara masif dibentuk lewat film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI.

Karya sinematik ini lahir sebagai mesin propaganda andalan di era Orde Baru untuk memastikan ideologi komunisme tertanam kuat sebagai ancaman terbesar bangsa.

Proses Produksi dan Keterbatasan Riset

Disokong penuh oleh dana pemerintah melalui Pusat Produksi Film Negara (PPFN), karya ini menjadi film komersial pertama yang mengadaptasi tragedi 1965. Proses penggarapannya memakan waktu nyaris dua tahun, melingkupi empat bulan pra-produksi dan satu setengah tahun masa syuting.

Jabatan produser dipegang langsung oleh Kepala PPFN kala itu, Brigjen Gufran Dwipayana. Di kursi penyutradaraan, Arifin C. Noer dibantu oleh Hasan Basri yang menangani sinematografi serta Embie C. Noer sebagai penata musik.

Naskah film ini sepenuhnya berkiblat pada buku kontroversial terbitan 1968 susunan Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh, yang kerap bertentangan dengan temuan peneliti asing pada masa itu.

Keluarga sang sutradara tidak menampik adanya tendensi politik di balik layar. Jajang C. Noer dan putrinya, Nazira C. Noer, mengungkapkan bahwa film ini merupakan pesanan khusus Orde Baru yang dirancang agar publik membenci PKI. Dalam proses risetnya, Arifin C. Noer terpaksa bersandar pada narasi tunggal pemerintah dan keluarga korban.

Ketiadaan narasumber dari pihak PKI yang berani bersuara membuat informasi yang dirangkum sangat terbatas dan belum mencakup kebenaran sejarah secara utuh.

Era Kewajiban Menonton hingga Penghentian Penayangan

baca juga

Dirilis perdana pada tahun 1984, film berdurasi hampir empat jam ini mulai mengudara di TVRI pada 30 September 1985. Selama 13 tahun berturut-turut, rezim Soeharto mewajibkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelajar dari tingkat dasar hingga menengah, untuk menontonnya pada malam 30 September.

Dominasi narasi ini baru runtuh seiring tumbangnya Orde Baru. Pada tahun 1998, di bawah pemerintahan Presiden B.J. Habibie, Menteri Penerangan Yunus Yosfiah secara resmi mencabut aturan wajib tayang tersebut.

Penghentian ini didasari oleh semangat keterbukaan era Reformasi, kritik atas pengkultusan tokoh tertentu, serta gelombang protes terkait muatan kekerasan yang dinilai tidak ramah anak dan berisiko membangkitkan trauma masyarakat.

Deretan Distorsi dan Cacat Fakta Sejarah

Seiring terbukanya keran informasi, para pakar mulai membedah berbagai ketidaksesuaian fakta dalam film tersebut. Beberapa distorsi sejarah utama meliputi:

  • Penyiksaan di Lubang Buaya: Adegan sadis seperti mutilasi dan pencukilan mata terbukti fiktif. Dokumen forensik (visum et repertum) tahun 1965 menunjukkan penyebab utama kematian para jenderal adalah luka tembak. Kesaksian ahli forensik Prof. Arief Budianto (dr. Liem Joe Thay) mempertegas bahwa kondisi bola mata korban yang tampak keluar murni disebabkan oleh proses pembusukan akibat terendam air sumur selama berhari-hari, bukan karena pencongkelan paksa.
  • Stigmatisasi Gerwani: Penggambaran anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat yang menari erotis sembari menyiksa korban tidak pernah terbukti, baik dalam dokumen peradilan maupun catatan sejarah resmi.
  • Anakronisme Peta: Munculnya peta Indonesia yang sudah memasukkan wilayah Timor Timur di ruang Kostrad merupakan sebuah blunder sejarah, mengingat provinsi tersebut baru berintegrasi pada tahun 1976.
  • Dramatisasi Karakter: Sosok Soeharto ditampilkan secara heroik, tenang, dan sangat dominan. Pemeran Soeharto, Amoroso Katamsi, bahkan sempat mengakui bahwa film ini memang memuat agenda politik sehingga banyak adegan yang sengaja didramatisasi. Sejarawan Hilmar Farid mempertegas bahwa film ini adalah representasi fantasi dan propaganda pribadi Soeharto.

Pandangan Terkini: Antara Edukasi dan Sensor

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Main Bareng Lydi Kandou di Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Lukman Sardi Grogi Setengah Mati

Main Bareng Lydi Kandou di Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Lukman Sardi Grogi Setengah Mati

Entertainment | Selasa, 29 September 2026 | 19:23 WIB

Plot Twist Mengejutkan di 'The Handmaiden', Ketika Cinta Sesama Jenis Jadi Simbol Perlawanan

Plot Twist Mengejutkan di 'The Handmaiden', Ketika Cinta Sesama Jenis Jadi Simbol Perlawanan

Your Say | Selasa, 29 September 2026 | 17:52 WIB

Campursari Jadi Napas Cerita di Film Cidro Asmoro, Saat Persahabatan Diuji Popularitas

Campursari Jadi Napas Cerita di Film Cidro Asmoro, Saat Persahabatan Diuji Popularitas

Entertainment | Selasa, 29 September 2026 | 16:34 WIB

Mengupas Karakter Kim Seon-ho di 'The Childe': Tersenyum Lebar tapi Bikin Merinding!

Mengupas Karakter Kim Seon-ho di 'The Childe': Tersenyum Lebar tapi Bikin Merinding!

Your Say | Selasa, 29 September 2026 | 16:00 WIB

Skenario Sang Jenderal: Runtuhnya Tembok Kebohongan Ferdy Sambo

Skenario Sang Jenderal: Runtuhnya Tembok Kebohongan Ferdy Sambo

Your Say | Selasa, 29 September 2026 | 18:30 WIB

Ugly Duckling Ms. Maeng Tayang Oktober, Ungkap Kekacauan di Balik CSAT

Ugly Duckling Ms. Maeng Tayang Oktober, Ungkap Kekacauan di Balik CSAT

Your Say | Selasa, 29 September 2026 | 15:00 WIB

Terkini

Bayan CraftArt Fest 2026 Jadi Pintu Awal UMKM Perluas Pasar dan Bangun Jejaring

Bayan CraftArt Fest 2026 Jadi Pintu Awal UMKM Perluas Pasar dan Bangun Jejaring

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 07:35 WIB

Pasar Mobil Jateng Tumbuh di Tengah Opsen Pajak, Gran Max Jadi Primadona

Pasar Mobil Jateng Tumbuh di Tengah Opsen Pajak, Gran Max Jadi Primadona

Jawa Tengah | Rabu, 30 September 2026 | 07:35 WIB

Niat Perbaiki Pompa Air, Lansia di Madiun Tewas Usai Terperosok ke Sumur 20 Meter

Niat Perbaiki Pompa Air, Lansia di Madiun Tewas Usai Terperosok ke Sumur 20 Meter

Jatim | Rabu, 30 September 2026 | 07:34 WIB

4 Rekomendasi Tablet untuk Kasir UMKM, Harga Mulai Rp1 Jutaan

4 Rekomendasi Tablet untuk Kasir UMKM, Harga Mulai Rp1 Jutaan

Tekno | Rabu, 30 September 2026 | 07:29 WIB

3 Kelurahan di Bandar Lampung Diusulkan Jadi Kampung Nelayan Merah Putih

3 Kelurahan di Bandar Lampung Diusulkan Jadi Kampung Nelayan Merah Putih

Lampung | Rabu, 30 September 2026 | 07:26 WIB

4 Zodiak dengan Horoskop Terbaik 30 September 2026, Jujur Bisa Buka Peluang Baru

4 Zodiak dengan Horoskop Terbaik 30 September 2026, Jujur Bisa Buka Peluang Baru

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 07:25 WIB

Pelajaran Kartu Merah Thom Haye: Timnas Butuh Kurikulum VAR

Pelajaran Kartu Merah Thom Haye: Timnas Butuh Kurikulum VAR

Your Say | Rabu, 30 September 2026 | 07:15 WIB

Skema Biaya Haji 2027 Diusulkan 52:48, Berapa yang Harus Dibayar Jemaah?

Skema Biaya Haji 2027 Diusulkan 52:48, Berapa yang Harus Dibayar Jemaah?

News | Rabu, 30 September 2026 | 07:10 WIB

4 Shio yang Diprediksi Beruntung Urusan Pekerjaan dan Keuangan 30 September 2026

4 Shio yang Diprediksi Beruntung Urusan Pekerjaan dan Keuangan 30 September 2026

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 07:09 WIB

Perang Modern Butuh Teknologi, Bukan Komcad! Pemerintah Salah Arah dan Boros Anggaran

Perang Modern Butuh Teknologi, Bukan Komcad! Pemerintah Salah Arah dan Boros Anggaran

News | Rabu, 30 September 2026 | 07:00 WIB

×