- PBNU merombak kepengurusan periode 2026-2031 pada Kamis, 1 Oktober 2026, dengan mengukuhkan 210 tokoh.
- Pendakwah Miftah Maulana Habiburrahman resmi masuk dalam jajaran Ketua PBNU untuk memperkuat komunikasi masyarakat muda.
- KH Abdul Hakim Mahfudz menyatakan perombakan ini bertujuan meratakan representasi organisasi agar bergerak secara harmonis.
Suara.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi merombak barisan kepemimpinannya untuk masa khidmah 2026-2031.
Salah satu kejutan besar dalam pengumuman tersebut adalah masuknya nama pendakwah kondang, Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah, ke dalam jajaran Ketua PBNU.
Langkah strategis ini dinilai sebagai upaya PBNU untuk menyegarkan organisasi sekaligus memperkuat komunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat, terutama kaum muda dan masyarakat marjinal.
Amunisi Baru di Jajaran Pimpinan
Penunjukan Gus Miftah bukan tanpa alasan. Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji ini dikenal memiliki gaya dakwah yang "nyentrik", luwes, dan mampu merangkul kelompok yang selama ini sulit dijangkau oleh birokrasi keagamaan formal.
Di usianya yang menginjak 44 tahun, Gus Miftah diharapkan menjadi "darah segar" yang mampu mendobrak sekat komunikasi antar-generasi di tubuh organisasi Islam terbesar di dunia ini.
Dalam susunan pengurus baru ini, PBNU mengukuhkan total 210 tokoh. Komposisinya dirancang untuk memadukan kedalaman ilmu para ulama sepuh dengan daya pikat figur populis yang digandrungi Generasi Z.
Misi Pemerataan dan Keseimbangan
Ketua PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), menegaskan bahwa perombakan ini mengusung misi pemerataan.
Pengasuh Pesantren Tebuireng ini ingin memastikan setiap unsur di lingkungan NU, mulai dari badan otonom hingga tokoh kultural, memiliki representasi yang seimbang.
"Kami ingin ada pemerataan di semua jajaran, dari generasi awal hingga akhir. Unsur-unsur dari IPNU, IPPNU, hingga Ansor kita seimbangkan agar roda organisasi bergerak harmonis," ujar Gus Kikin dalam siaran pers resminya, Kamis (1/10/2026).
Jembatan ke Pemerintah dan Kaum Urban
Selain pengaruh kulturalnya di akar rumput, posisi Gus Miftah juga dipandang strategis secara politik.
Kedekatannya dengan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka diyakini bakal memperkuat sinergi antara umat dan pemerintah.
Para pengamat menilai, kehadiran sang dai berambut gondrong ini akan membawa angin segar bagi modernisasi syiar Islam di wilayah perkotaan.
Selama ini, narasi toleransi yang dibawakan Gus Miftah terbukti efektif diterima oleh kalangan pelajar hingga pekerja muda urban.
Tantangan Baru: Dakwah Lapangan vs Birokrasi
Meski disambut positif, tantangan besar kini menanti Gus Miftah. Ia harus mampu menyelaraskan ritme dakwah lapangannya yang bebas dan luwes dengan tata kelola organisasi PBNU yang formal dan ketat.
Publik kini menanti, sejauh mana pengaruh "Gus Miftah Effect" mampu membawa PBNU tampil lebih relevan di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.