- DLK Pictures dan Inhype Pictures menggelar konferensi pers film Yang Disebut Nakal di Jakarta pada Rabu (21/10/2026).
- Film yang disutradarai Benni Setiawan tersebut menceritakan dinamika pembinaan remaja di lembaga Bina Laku Wanareksa.
- Pemeran utama seperti Donny Damara dan Boris Bokir menyatakan film ini bertujuan meningkatkan empati serta komunikasi antara orangtua dan anak.
Suara.com - Istilah “anak nakal” kerap menjadi label yang gampang disematkan masyarakat maupun orangtua kepada remaja yang dinilai menyimpang dari aturan.
Berangkat dari keresahan tersebut, DLK Pictutres dan Inhype Pictures memproduksi film bertajuk Yang Disebut Nakal hadir untuk membedah ulang arti kenakalan remaja dari sudut pandang yang lebih segar, empatik, sekaligus menyentil.
Hal itu terungkap dalam konferensi pers film Yang Disebut Nakal yang digelar di Jakarta pada Rabu (21/10/2026).
Deretan aktor kenamaan seperti Donny Damara, Boris Bokir, Aming, hingga Fatih Unru membagikan kisah seru seputar peran mereka serta pesan mendalam di balik film ini.
Dari Bootcamp Liburan hingga Masalah Komunikasi
Film Yang Disebut Nakal berlatar di sebuah lembaga pembinaan swasta bernama Bina Laku Wanareksa.
Di tempat ini, para remaja "dititipkan" oleh orangtua mereka selama masa liburan sekolah layaknya sebuah bootcamp atau summer camp.
Aktor senior Donny Damara berperan sebagai Pak Surya, pimpinan Bina Laku Wanareksa, didampingi dua pelatihnya: Goklas Panjaitan yang diperankan Boris Bokir dan Yayat yang diperankan Aming.
Sementara itu, Fatih Unru memerankan sosok Asep Saifudin, salah satu anak yang dikirim ke tempat pembinaan tersebut.
"Sebenarnya spirit-nya diambil dari pembinaan anak-anak yang, kita sepakat, nakal itu cuma masalah persepsi. Tugas para pelatih di Bina Laku ini bukan mencap mereka anak jahat, tapi mengarahkan bahwa mereka hanya butuh bimbingan dan diperlihatkan bagaimana menemukan sebuah keluarga baru," kata Aming.
Boris Bokir menambahkan, lembaga semacam Bina Laku bukanlah fiksi belaka.
Di dunia nyata, institusi pembinaan perilaku serupa kerap digunakan untuk pelatihan karyawan perusahaan, pembentukan karakter, hingga leadership.
Namun film garapan sutradara Benni Setiawan ini fokusnya diarahkan pada dinamika anak-anak sekolah yang tengah mencari jati diri.
"Film ini bukan mendidik agar begitu keluar dari sini kamu otomatis jadi anak alim, bukan," ujar Donny Damara.
"Paling tidak, mereka bisa berempati dan belajar berkomunikasi dengan orangtua. Supaya tidak ada communication gap antara anak dan ayah atau ibu," katanya menyambung.
Menariknya, visi sutradara juga memasukkan elemen psikolog ke dalam alur cerita, menghadirkan pendekatan yang lebih manusiawi dan modern dalam memahami kondisi psikologis remaja.
Kilas Balik Masa Kecil: Nakal yang Bertanggung Jawab
Suasana konferensi pers sempat diwarnai tawa ketika para pemain mengenang kenakalan masa kecil masing-masing.
Donny Damara mengaku bahwa ia tidak pernah anti terhadap kenakalan di masa muda, asalkan memiliki batasan dan pola yang jelas.
"Waktu kecil kita harus nakal, karena kalau nakalnya telat itu lebih bahaya. Asal institusi keluarga pondasinya kuat, nakalnya pasti terukur. Saya dulu kalau tawuran tanggung jawab sendiri, tapi kalau ngelawan ibu, nah itu baru bahaya," kata Donny berkelakar.
Hal serupa diamini Aming dan Boris Bokir dengan gaya jenaka mereka. Aming berseloroh masa mudanya diwarnai aksi bolos sekolah hingga menjadi "provokator" ala tokoh pewayangan Sangkuni.
Sementara Boris mengaku masa lalunya tak jauh dari bolos les meski sudah dibiayai orangtua.
Namun di balik kelakar tersebut, Boris Bokir menyoroti pentingnya pola asuh modern yang mengedepankan dialog dua arah.
"Didikan orangtua zaman dulu sering kali searah. Sekarang, kita harus lebih banyak mendengar aspirasi anak dulu baru mencari formulanya. Misalnya ada anak suka berenang di sungai sampai sore atau suka nge-band sampai malam, dulu dibilang nakal, padahal mungkin potensinya di situ. Mereka hanya butuh didengar dan diarahkan," ucap Boris.
Aming pun sepakat, "Sebenarnya enggak ada anak nakal, yang ada itu anak bingung. Mereka butuh arahan, tapi orangtua kadang abai atau frekuensinya belum nyambung."
Proyeksi dari Rumah
Sebagai perwakilan generasi termuda di antara jajaran narasumber, Fatih Unru memberikan refleksi yang begitu mendalam mengenai arti kata "nakal".
Menurutnya, kenakalan remaja tidak bisa disamakan begitu saja dengan kejahatan moral.
"Nakal itu bukan kejahatan, dan nakal tidak mendefinisikan utuh karakter manusia. Spektrumnya luas sekali. Saya rasa, kecenderungannya sangat besar bahwa itu adalah proyeksi dari apa yang anak dapatkan di rumah," tutur Fatih.
Fatih menekankan, ketika seorang anak merasa tidak diterima, kekurangan kasih sayang, atau minim validasi di lingkungan keluarga, mereka akan terdorong mencari pemenuhan tersebut di luar.
Lewat paduan komedi, drama keluarga, dan eksplorasi psikologis yang menyentuh, film Yang Disebut Nakal yang diproduser Diana Limbong ini diharapkan mampu menjadi jembatan dialog antara orangtua dan anak, mengajak penonton berkaca bahwa di balik tingkah seorang anak yang dianggap "nakal", selalu ada cerita yang belum sempat didengarkan. [Hana Khairunnisa]