SUARA GARUT - Mendengar nama Asep, yang mungkin terbersit dalam benak khalayak adalah sebuah nama seorang pria asal Sunda.
Memang, nama Asep sangat identik dengan etnis Sunda di Jawa Barat.
Jika ditelisik dari sisi literasi bahasa Sunda, kata Asep ini merupakan kependekan dari Kasep yang artinya tampan atau ganteng.
Orang tua di tatar Sunda pada zaman baheula (dulu) kerap menyematkan nama Asep untuk anak laki-lakinya sebagai ekspresi kasih sayang.
Namun, seiring perkembangan zaman, para orang tua di daerah Sunda mulai jarang memberikan nama Asep kepada anaknya.
Hal ini bisa dibuktikan melalui survei di berbagai sekolah. Dari riset yang dilakukan, dalam absensi di sekolah saat ini sudah sangat jarang nama siswa bernama Asep.
Nah, seiring dengan perkembangan zaman hingga memasuki era digital, saat komunikasi via media sosial menjadi mudah, para pemilik nama Asep dari seluruh dunia terinspirasi untuk membentuk Paguyuban Asep Dunia.
Ide membentuk perkumpulan orang-orang bernama Asep ini tidak terlepas dari kekhawatiran Asep akan punahnya nama ikonik ini.
Menurut Asep Ruhiman salahseorang anggota Paguyuban Asep Dunia, paguyuban ini bermula diinisiai oleh seseorang yang mencari nama Asep di media sosial facebook.
Ketika itu, Ia mengumpulkan nama pengguna yakni Asep pertama kali lewat media sosial tersebut, karena Facebook saat itu menjadi salah satu medsos yang paling favorit.
Hingga pada 2008, pria yang bernama Asep Gunawan mulai mengumpulkan nama-nama Asep yang ada di jagat maya.
Kemudian pada 1 Agustus 2010 akhirnya Asep Gunawan bersama Asep Bambang Fauji berhasil mengumpulkan nama-nama yang sama untuk membuat paguyuban.
Paguyuban ini berisi nama-nama Asep yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara.
Tak sampai disitu, saat mengadakan Konferensi Asep-Asep (KAA) di Bandung, ternyata banyak warga lain yang terus mendaftar untuk gabung dalam paguyuban tersebut.
Bahkan ada yang berasal mancanegara, mulai dari Turki, Madinah hingga Amerika dengan berbagai latar belakang dan profesi.
Dijelaskannya, didirikannya paguyuban ini tak hanya semata-mata untuk berkumpul para pemilik nama Asep saja.
Menurutnya, hal ini juga dilatarbelakangi kepedulian karena nama Asep yang ditenggarai mulai punah, sehingga ada sebuah upaya untuk melestarikannya.
Belakangan diketahui, sejak adanya Konferensi Asep Asep (KAA) di Bandung beberapa waktu lalu, ternyata ada juga pemilik nama Asep yang bukan berasal dari Sunda atau Jawa Barat.
"Ternyata setelah kami pemilik nama Asep ngumpul di Konferensi Asep Asep itu, ternyata ada peserta bernama Asep bukan dari Sunda, misalnya dari Batak, Jawa dan lainnya, tentu itu ada kisah tersendiri saat Asep terlahir orangtuanya, sehingga memberi nama Asep," tutur Asep Ruhiman yang juga seorang guru di SMKN 12 Garut.
Diharapkannya, dengan adanya wadah perkumpulan Asep Asep ini, nama Asep bisa lestari.
Nah, dalam waktu dekat ini, pemilik nama Asep direncanakan akan kembali ngumpul di Garut, Jawa Barat.
Informasi rencana berkumpulnya para Asep ini disampaikan Wakil Presiden Paguyuban Asep Sedunia, Asep Jaelani, belum lama ini.
Menurutnya, acara tersebut akan digelar pada 15-16 Juli 2023 mendatang dengan sejumlah kegiatan menarik.
Sudahkan Anda mendapatkan undangan dari Kang Asep? (*)
Editor: SENO