SUARA GARUT— Adolf Hitler atau lebih dikenal Hitler merupakan salah seorang tokoh dalam sejarah dunia. Hitler sendiri adalah politisi negara Jerman— Ketua Partai Nazi.
Selain itu, pria yang lahir di Austria tersebut disebut-sebut sebagai salah satu pemicu terjadinya Perang Dunia II. Ia juga dahulu dikenal sebagai figur yang mendukung gerakan anti-rokok di Jerman.
Bahkan, Hitler pun dikabarkan tidak menyukai dan tak pernah meminum minuman beralkohol dan mengajak warga Jerman saat itu agar tidak mengonsumsi zat-zat memabukkan.
Berdasarkan literatur sejarah, Hitler meninggal dunia di Berlin, Jerman pada 2 Mei 1945 bersama kekasihnya karena melakukan bunuh diri. Namun, muncul sebuah teori konspirasi yang menyebutkan pria vegetarian itu dimakamkan Garut.
Sebuah buku yang berjudul "Garut Kota Illuminati" lansiran tahun 2013, menjelaskan bahwa Hitler pernah bermukim di Garut. Dalam buku itu juga disebutkan, Garut merupakan suatu tempat pencarian Kota Atlantis yang sudah lama hilang.
Adapun alasan Hitler bisa berada di Garut karena dirinya melarikan diri dari Jerman ke Indonesia pasca terjadinya Perang Dunia II. Buku yang kontroversial ini juga menyebutkan Indonesia merupakan salah satu tempat tinggal kaum Illuminati Freemason.
Mulai dari sini juga Garut mendapat julukan Swiss van Java. Mereka (kaum Illuminati Freemason) menganggap Garut sangat mirip dengan Swiss yang notabene basis pergerakan dan pusat keuangan kelompok Illuminati Freemason.
Hal tersebut pula yang melandasi bahwa Hitler dikabarkan sempat tinggal di Indonesia, yaitu di Garut. Teori konspirasi Hitler kabur ke Indonesia sendiri berawal dari tokoh militer Indonesia, dr. Sosro Husodo yang berasal dari Bandung.
Sosro dalam pemaparan asumsinya melalui sebuah artikel yang dimuat di surat kabar Pikiran Rakyat tahun 1983, mengatakan, dirinya sangat yakin pernah bertemu dengan Hitler.
Baca Juga: Ini Lokasi Exit Tol GeTaCi di Garut, Proyek Tahap Pertama Segera Dibangun
Ia mengaku bertemu Hitler pada 1960 di daerah Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Namun, saat itu Hitler menggunakan nama dr. Poch dan tinggal (Kabupaten) Dompu, Nusa Tenggara Barat.
Berselang beberapa waktu kemudian, Poch berpindah tempat tinggal ke Kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Tak berselang lama, Poch pindah lagi ke Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat.
Ketika bermukim di Sumbawa Besar, Poch diketahui berprofesi sebagai dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Sumbawa Besar. Bahkan, Poch dikenali oleh semua masyarakat di Pulau Sumbawa. Masyarakat sana menyapanya dengan sebutan 'Dokter Jerman'.
Hal lain yang membuat Sosro yakin dirinya pernah bertemu dengan Hitler ialah bentuk fisik Poch sangat mirip bahkan sama dengan tokoh Nazi itu. Adolf Hitler tak dapat berjalan normal karena mengalami kelumpuhan pada kaki kirinya.
Sistem penglihatannya pun mengalami gangguan. Tokoh Nazi itu juga mempunyai riwayat penyakit kejang urat (bergetar) pada tangan kirinya setelah melakukan pertemuan di Volgograd (dulu Stallingrad), Rusia.
Tak hanya itu, dikabarkan Sosro juga pernah melakukan pemeriksaan secara langsung terhadap tangan kiri Poch. Ketika itu Sosro bertanya kepada Poch— tangan kirinya kerap bergetar telah berlangsung berapa lama.